“REFLEKSI THE CRITIQUE OF PURE REASON”

 


Penulis bernama Immanuel Kant dilahirkan pada 1724 di Konigsberg dari pasangan Johann Georg Kant, seorang ahli pembuat baju zirah (baju besi), dan Anna Regina Kant. Ibunya meninggal pada saat Kant berumur 13 tahun, sedangkan ayah Kant meninggal saat dia berumur hamper 22 tahun. Kant menempuh pendidikan dasar di Saint George’s Hospital School, kemudian melanjutkan ke Collegium Fredericianum, sebuah sekolah yang berpegang pada ajaran Pietist, yaitu agama di Jerman yang mendasarrkan keyakinannya pada pengalaman religious dan studi kitab suci. Pada tahun 1740, Kant menempuh pendidikan di University of Konigsberg dan mempelajari tentang filosofi, matematika dan ilmu alam. Untuk meneruskan pendidikannya, dia bekerja sebagai guru privat selama tujuh tahun dan pada masa itu, Kant mempublikasikan beberapa naskah yang berkaitan dengan pertanyaan ilmiah. Pada tahun 1755-1770, Kant bekerja sebagai dosen sambil terus mempublikasikan beberapa naskah ilmiah dengan berbagai macam topic. Gelar professor didapatkan Kant di Konigsberg pada tahun 1770.

Dan Buku THE CRITIQUE OF PURE REASON adalah salah satu karya terbaiknya.

Berikut refleksi atau rangkuman terkait buku THE CRITIQUE OF PURE REASON:

PENDAHULUAN

I. Perbedaan antara Pengetahuan Murni dan Pengetahuan Empiris

Semua pengetahuan dimulai dengan pengalaman. Tapi meskipun semua pengetahuan kita dimulai dengan pengalaman, tidak berarti bahwa semua pengetahuan mucul dari pengalaman. Pengetahuan terbagi atas dua yaitu pengetahuan apriori dan pengetahuan empiris.

1.   Pengetahuan apriori yang bebas dari pengalaman dan kesan indera. Pengetahuan apriori terbagi dua juga yaitu pengetahuan apriori murni dan yang tidak murni.

a.  Apriori murni yaitu pengetahuan apriori yang tidak ada unsur empiris menyertainya.

b.Apriori tidak murni yaitu pengetahuan apriori yang ada unsur empiris menyertainya, contohnya setiap perubahan memiliki sebab.

2.   Pengetahuan smpiris merupakan gabungan yang diterima melalui kesan, dimana kemampuan kognisi muncul dari diri sendiri

II.   Intelek Manusia dalam keadaan yang tidak Filosofis bahkan dikuasai oleh kognisi Apriori Tertentu

Bagaimana cara membedakan kognisi murni dan kognisi empiris? Jika kita memiliki proposisi yang di dalamnya berisi gagasan kebutuhan berdasarkan konsepsi tersebut, hal itu tidak berasal dari proposisi lainnya, kecuali jika satu sama lain melibatkan gagasan tentang kebutuhan tersebut, maka hal tersebut benar-benar bersifat apriori. Penilaian empiris tidak pernah menunjukkan hal ketat dan mutlak, tetapi hanya dapat diasumsikan dan merupakan universalitas komparatif (dengan induksi).

III. Filsafat membutuhkan sebuah Ilmu Pengetahuan yang akan menentukan kemungkinan, prinsip dan jangkauan pengetahuan manusia secara apriori

Masalah-masalah yang tidak dapat digunakan akal budi murni adalah tentang tuhan, kebebasan (kehendak) dan keabadian. Ilmu ini disebut ilmu metafisika yakni sebuah ilmu pengetahuan yang bersifat dogmatis sejak awal, yaitu dengan melakukan sebuah pelaksanaan tugas tanpa investigasi sebelumnya mengenai kemampuan dan ketidakmampuan akal budi.

IV. Perbedaan antara Penilaian Analitis dan Sintetis

Hubungan antara subjek dengan predikat mungkin saja terjadi dalam du acara yang berbeda. Prediket B milik subjek A, karena didalamnya terkandung (meskipun diam-diam) konsepsi A; atau prediket B benar-benar berada dari konsepsi A, meskipun ia memiliki hubungan dengannya. Dari kedua contoh ini kita akan mengambilkan kesimpulan tentang penilaian analitis dan sintetis

1.     Penilaian analitis

Penilaian analitis (affirmative) adalah penilaian yang memiliki hubungan dengan prediket dimana subjek terkadang kita pikirkan melalui identitas karena sama sekali tidak menambahkan prediket bagi konsepsi subjek tetapi hanya menganalisis tentang konsepsi penyusunnya meskipun dengan cara yang membingungkan.

2.     Penilaian sintetis. Penilaian analitis bersifat menerangkan

Penilaian sintetis adalah penilaian terhadap hubungan yang kita pikirkan tanpa identitas. Penilaian sintetis bersifat penilaian augmentatis. Penilaian ini menambah pengetahuan kita tentang subjek dimana sebuah predikat tidak terkandung di dalamnya.

V.    Dalam semua ilmu Teoritis tentang Akal Budi, Dalam Penilaian Sintetis “ Apriori” Terkandung Beberapa Prinsip

1.     Penilaian matematika selalu bersifat Sintetis

2.     Ilmu filsafat Alam (fisika) mengandung dalam dirinya penilaian sintetis apriori, sebagai prinsip-prinsipnya.

3.     Mengenai metafisika, bahkan jika kita memandangnya hany sebagai ilmu uji coba, namun berdasarkan sifat akal budi manusia yang sangat diperlukan, kita menemukan bahwa ia pati berisi proposisi sintetis apriori.

 

VI. Masalah Universal dalam Akal Budi Murni

Bagaimanakah penilaian sintetis apriori yang benar?

Menurut David Hume berpendapat bahwa proposisi seperti apriori adalah mustahil. Menurut kesimpulannya ilmu metafisika adalah khayalan belaka. Pernyataan inilah yang merusak filsafat murni . solusinya pada saat yang sama ia memahami penggunaan akal budi murni dalam fondasi dan kontruksi dari semua ilmu yang mengandung pengetahuan teoritis apriori terhadap objek. Metafisika harus dianggap benar-benar ada, jika tidak sebagai ilmu namun sebagai disposisi alami dari pikiran manusia.

VII.                 Ide dan Pembagian Ilmu Pengetahuan tertentu Berdasarkan Kritik Atas Akal Budi Murni

Akal budi adalah kemampuan yang melengkapi kita dengan prinsip-prinsip pengetahuan apriori. Oleh karena itu akal budi murni adalah kemampuan yang berisi prinsip-prinsip untuk memahami hal-hal yang benar-benar apriori.

Penulis menggunakan istilah transendetal dalam buku ini untuk semua pengetahuan yang tidak begitu banyak berhubungan dengan objek-objek seperti modus kognisi kita terhadap berbagai onjek, dimana monus kognisi ini bersifat apriori.

Filsafat transcendental adalah gagasan tentang ilmu pengetahuan dimana Critique of pure reason menggambarkan seuluruh rencana secara arsitektonik. Mengenai Critique of Pure Reason merupakan bagian dari filsafat transcendental dan merupakan gagasan filsafat transcendental yang komplit., tapi masih belum merupakan ilmu pengetahuan karena sejauh ini hanya melanjutkan analisis yang diperlukan bagi kekuatan penilaian pengetahuan sintetis apriori kita.

 


 

DOKTRIN TRANSENDENTAL TENTANG UNSUR

BAGIAN PERTAMA

ESTETIKA TRANSENDENTAL

·  Intuisi dapat terjadi hanya jika objek diberikan kepada kita. Syarat bahwa objek mempengaruhi pikiran  dengan cara tertentu

·  Kapasitas untuk menerima melalui modus dimana kita dipengaruhi oleh objek tersebut, sehingga objek tersebut disebut sebagai sensibilitas

·  Intuisi empiris adalah jenis intuisi yang berhubungan dengan objek dengan cara penginderaan

·  Objek yang belum ditentukan terhadap intuisi empiris disebut fenomena

·  Ilmu tentang semua prinsip-prinsip sensibilitas apriori disebut penulis sebagai estetika transcendental

·  Dalam ilmu estetika transcendental, pertama kita harus mengisolasi sensibiltas atau kemampuan inderawi. Setelah itu kita akan mengambil intuisi ini yang dimiliki oleh penginderaan sehingga tidak ada yang tertinggal kecuali intuisi murni dan bentuk fenomena, yang merupakan sensibilitas kemampuan apriori

BAGIAN I. TENTANG RUANG

A. EKSPOSISI METAFISIKA TENTANG KONSEP INI

1.     Ruang bukanlah konsepsi yang telah diperoleh dari pengalaman luar.

2.     Ruang merupakan representasi yang diperlukan secara apriori yang berfungsi bagi fondasi bagi semis intuisi eksternal.

3.     Ruang bukanlah bersifat diskursif atau seperti yang biasa dikatakan konsepsi umum dalam hubungan benda-benda tetapi merupakan intuisi murni

4.     Ruang direpresentasikan sebagai kuantitas yang ditentukan secara tak terbatas.

B.  EKSPOSISI TRANSENDENTAL TENTANG KONSEPSI RUANG

Pada awalnya ia adalah intuisi. Dengan penjelasan tentang keumngkinan geometri sebagai ilmu sintetis apriori, masalah tentang ruang itu menjadi bisa dipahami.

C. KESIMPULAN BERDASARKAN KONSEPSI SEBELUMNYA

1.     Ruang tidak merepresentasikan setiap sifat objek sebagai seuatu yang ada dalam diri mereka, juga tidak merepresentasikan mereka dalam hubungan mereka satu sama lain.

2.     Ruang tidak lain hanyalah bentuk dari semua fenomena dari indera eksternal yaitu kondisi subjektif dari sensibilitas dimana intuisi eksternal saja sudah memungkinkan bagi keberadaannya.

 

 

 

 

 

BAGIAN II. TENTANG WAKTU

EKSPOSISI METAFISIKA TENTANG KONSEPSI INI

I. WAKTU BUKANLAH KONSEPSI EMPIRIS

1.     Waktu bukanlah sesuatu yang hidup dalam dirinya sendiri atau yang melekat pada benda-benda sebagai sebuah ketentuan objektif dan karena itu ia tetap ada Ketika abstraksi dibuat dari kondisi subjektif dari intuisi tentang benda.

2.     Waktu tidak lain adalah bentuk perasaan internal yaitu berasal dari intusi diri dan keadaan internal kita

3.     Waktu adalah kondisi formal apriori dari semua fenomena.

Pendapat Umum Tentang Estetika Transendental

a.     Untuk mencegah terjadinya kesalahpahaman, maka pertama-tama diperlukan untuk merekapitulasi dengan sejelas-jelasnya tentang pendapat kita dalam kaitannya dengan sifat fundamental dari kognisi indera kita pada umumnya

b.     Sesuai dengan teori idealitas indera eksternal maupun indera internal ini, akibatnya semua objek indera adalah sebagai fenomena belaka maka secara khusus kita bisa menyatakan bahwa dalam semua kognisi kita yang dimiliki oleh intuisi apapun kecuali hubungan belaka.

c.     Ketika kita mengatakan bahwa intuisi objek internal dan juga intuisi diri dari subjek tersebut merepresentasikan objek dan subjek dalam ruang dan waktu, sebagaimana mereka mempengaruhi indera kita.

d.     Dalam teologi alami, dimana kita memikirkan sebuah objek yakni tuhan yang tidak pernah menjadi objek intuisi bagi kita.

Kesimpulan Mengenai Estetika Transendental

Para ahli logika, harus mencamkan dua aturan ini:

a.     Sebagai logika umum, ia membuat abstraksi dari semua isi kognisi pemahaman dalam perbedaan objek dan tidak harus berhubungan denga napa pun kecuali bentuk pikiran belaka.

b.     Sebagai logika murni, ia tidak mempunyai prinsip-prinsip empiris dan akibatnya tidak menarik apa pun dari psikologi sehingga dengan demikian tidak mempunyai pengaruh terhadap norma pemahaman.

II.            TENTANG LOGIKA TRANSENDENTAL

Perbedaan antara hal-hal yang transcendental dan yang empiris hanya merupakan kritik terhadap kognisi dan hubungan tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan objeknya. Sebuah ilmu yang harus menentukan asal-usulnya, keluasannya, dan validitas tujuan dari kognisi tersebut disebut logika transcendental karena tidak seperti logika umum, ia tidak memiliki hubungan dengan hukum pemahaman dan akal budi dalam kaitannya dengan konsep empiris serta kognisi rasional murni tanpa ada perbedaan tetapi hanya berhubungan dengan hubungan objek apriori.

 

III. TENTANG PEMBAGIAN  LOGIKA UMUM MENJADI LOGIKA ANALITIS DAN LOGIKA DIALEKTIS

·    Apakah “Kebenaran” itu? Defenisi tentang kebenaran adalah kesesuaian antara kognisi dengan objeknya.

·    Logika umum memisahkan semua urusan formal dalam pemahaman dan akal menjadi beberapa elemen dan menunjukkan elemen tersebut sebagai prinsip-prinsip dalam semua penilaian logis terhadap kognisi kita.

·    Logika umum dalam sifat organon yang diasumsikan itu disebut dialektika

·    Logika umum yang dianggap sebagai sebuah organon selalu merupakan sebuah logika ilusi, yakni bersifat dialektik, karena ia tidak mengajarkan apa pun kepada kita dalam menghargai isi kognisi kita tetapi semata-mata sebagai kondisi formal yang sesuai dengan pemahaman, yang tidak ada hubungannya dengan objek.

IV. TENTANG PEMBAGIAN LOGIKA TRANSENDENTAL MENJADI ANALITIS DAN DIALEKTIS TRANSENDENTAL

·    Dalam logika transcendental, kita memisahkan pemahaman dan memilihnya dari kognisi kita semata-mata karena merupakan bagian pikiran yang memiliki asal-usul dari pemahaman saja

·    Transedental analitis merupakan bagian dari logika transcendental

·    Logika transcendental harus berupa sebuah kritik terhadap ilusi dialektis dan kritik ini akan disebut dialektika transcendental dan tidak memiliki arti sebagai sebuah seni untuk menghasilkan ilusi secara dogmatis tetapi sebagai sebuah kritik terhadap pemahaman dan akal budi dalam kaitannya dengan penggunaan hiperfisik mereka.


 

BAGIAN PERTAMA

ANALITIK TARNSENDENTAL

 

Analitik transcendental adalah diseksi seluruh pengetahuan apriori kita ke dalam unsur-unsur kognisi murni dalam pemahaman. Dalam rangka untuk mencapai tujuan, maka diperlukan:

1.   Konsepsi murni dan tidak empiris

2.   Mereka bukan milik intuisi dan sensibilitas tetapi milik pemikiran dan pemahaman

3.   Mereka merupakan konsepsi dasar dan dengan demikian sangat berbeda dari deduksi atau komponen konsepsi

4.   Tabel kita ini merupakan konsepsi dasar lengkap dan mengisi seluruh bidang pemahaman murni.

BUKU I

ANALISIS TERHADAP KONSEPSI

Analisis terhadap konsepsi atau prosesnya dalam investigasi filsafat dalam membedah konsepsi tersebut yang muncul pada dirinya sendiri dan untuk membuat konsepsi tersbeut menjadi jelas.

BAB I

TENTANG JEJAK TRANSENDENTAL HINGGA PENEMUAN SEMUA KONSEP MURNI

Bagian 1. Tentang Penggunaan Pemahaman Secara Umum Sebagaimana yang telah didefenisikan

·     Pemahaman bukanlah merupakan fakultas intuisi

·     Kognisi pada diri setiap manusia yang berupa pemahaman adalah kognisi melalui konsepsi yang tidak bersifat intuitif tetapi bersifat diskursif

·     Pemahaman tidak dapat menggunakan hal-hal lainnya dari konsepsi ini daripada melakukan penilaian dengan cara mereka

·     Pikiran adalah kognisi melalui konsepsi

·     Konsepsi sebagai prediket bagi penilaian yang ada, berhubungan dengan dengan beberapa representasi dari objek yang belum ditentukan

·     Konsepsi tentang benada menunjukkan sesuatu misalnya logam dapat dikenali melalui konsepsi tersebut. Oleh karena itu, konsepsi merupakan representasi lain yang terkandung di dalamnya yang dapat berhubungan dengan berbagai objek.

 

 

Bagian II. Tentang Fungsi Logis Pemahaman dalam Penilaian

Menurut Teknik ahli logika pengamatan, untuk mencegah terjadinya kesalahpahaman, yang harus dilakukan:

1.   Dalam logika transcendental seuatu yang tak terbatas harus dibedakan dengan penilaian afirmatif meskipun dalam logika umum mereka dapat digolongkan dalam klasifikasi afirmatif.

2.   Hubungan-hubungan pikiran yang berada dalam penilaian adalah: a) dari prediket kepada subjek; b) dari prinsip kepada konsekuensi sinyal; c) dari kognisi yang dibagi dan semua anggota bagian satu sama lain.

3.   Modalitas dalam penilaian adalah fungsi yang sangat khusus dengan karakteristik yang berbeda ini, yang memberikan kontribusi dengan isi ketentuannya tetapi perhatian kita ditujukan pada nilai kerja dalam kaitannya dengan pikiran pada umumnya.

Bagian III. Tentang Konsepsi atau Kategori Pemahaman Murni

1.   Kategori ini yang berisi kelompok-kelompok konsepsi pemahaman, dalam contoh pertama dapat dibagi menjadi dua kelompok yang pertama berhubungan dengan obejk-objek intuisi, baik murni maupun empiris dan yang kedua adalah eksistensi tentang objek-objek ini dalam kaitannya antara yang satu dengan yang lain atau dalam kaitannya dengan pemahaman.

2.   Jumlah kategori dalam setiap kelompok selalu sama.

3.   Dalam kaitannya dengan satu kategori, yakni tentang komunitas, yang ditemukan dalam kelompok ketiga tidaklah begitu mudah seperti kelompok lainnyauntuk mendeteksi nya berdasarkan bentuk penilaian disjungtif yang berhubungan dengannya seperti ditunjukkan dalam penjelasan tentang fungsi logis.

 BAB II

· TRANSISI DEDUKSI TRANSENDENTAL DARI KATEGORI TERSEBUT

Ø Hanya ada dua kemungkinan dimana representasi sintetis dan objek-obejknya berhubungan satu sama lain. Objek itu sendiri memungkinkan adanya sepresentasi tersebut atau representasi itu sendiri yang menjadi objek itu bias muncul.

Ø  Ada dua konidisi yang hanya memiliki dua kemungkinan kognisi terhadap objek yaitu intuisi dan konsepsi.

Ø Intuisi empiris dalam pengalaman harus selalu merenungkan subjek dan tidak pernah merenungkannya sebagai prediket belaka.

· DEDUKSI TRANSENDENTAL TENTANG KONSEPSI PEMAHAMAN MURNI

Ø Konjungsi adalah satu-satunya gagasan yang tidak dapat diberikan melalui objek tetapi hanya dapat berasal dari subjek itu sendiri Karena ia merupakan sebuah tindakan aktivitas spontan murni.

Ø Konjungsi adalah representasi dari kesatuan bermacam-macam sintesis.

Ø Eksistensi pemahaman berkaitan dengan penggunaan logisnya.

·     TENTANG KESATUAN APERSEPSI YANG AWALNYA MERUPAKAN SINTETIS

Ø Representasi  kata “saya berpikir” adalah tindakan spontanitas yakni ia tidak dapat dipandang sebagai milik sensibilitas semata. Penulis menyebut ini sebagai apersepsi murni untuk membedakan dengan apersepsi empiris karena hal tersebut merupakan kesadaran diri yang merupakan asal mula dari representasi.

Ø Kesatuan apersepsi ini disebut sebagai kesatuan kesadaran diri transcendental untuk menunjukkan kemungkinan dari sebuah kognisi apriori yang muncul darinya.

Ø Kesatuan analitis apersepsi hanya berada dalam perandaian kesatuan sintesis.

Ø Prinsip dasar kesatuan yang diperlukan dalam apersepsi sesungguhnya merupakan proposisi yang identic dank arena itu bersifat analitis.

·     PRINSIP KESATUAN SINTETIS DALAM APERSEPSI ADALAH PRINSIP TERTINGGI DARI PENERAPAN SEMUA PEMAHAMAN

Ø Prinsip tertinggi tentang kemungkinan semua intuisi dalam kaitannya dengan sensibilitas menurut estetika transcendental adalah berbagai bentuk intuisi yang tunduk kepada syarat-syarat formal dalam ruang dan waktu.

Ø Prinsip tertinggi dalam kemungkinan dalam kaitannya dengan pemahaman adalah bahwa berbagai hal di dalamnya tunduk kepada keadaan-keadaan yang awalnya merupakan kesatuan sintesis atau apersepsi

·     APAKAH KESATUAN OBJEKTIF TENTANG KESADARAN DIRI ITU?

Ø Kesatuan apersepsi yang diberikan dalam sebuah intuisi disatukan dalam sebuah konsepsi objek.

Ø Kesatuan empiris dalam kesadaran melalui representasi dengan sendirinya berhubungan dengan dunia fenomenal yang sepenuhnya bergantung kepadanya.

·     BENTUK LOGIS DARI SEMUA PENILAIAN TERDIRI DARI KESATUAN OBJEKTIF DALAM APERSEPSI TERHADAP KONSEPSI YANG TERKANDUNG DI DALAMNYA.

Semua keragaman ketika dinyatakan dalam intuisi empiris  dalam kaitannya dengan salah satu fungsi logis penilaian, ia ditentukan melalui penyatuan dalam satu kesadaran. Demikianlah, kategori yang tidak lain merupakan fungsi penilaian berbagai intuisi ini ditentukan dalam kaitannya dengan fungsi tersebut. Akibatnya beragam intuisi yang diberikan selalu tunduk pada kategori pemahaman.


 

BUKU II

BAGIAN III REPRESENTASI SISTEMATIS DALAM SEMUA PRINSIP SINTESIS DALAM PEMAHAMAN MURNI

1.     AKSIOMA INTUISI

Prinsip ini : semua Intuisi adalah kuantitas yang banyak

2.     Antisipasi terhadap persepsi

Prinsip ini: dalam semua fenomena yang nyata, yang merupakan objek penginderaan. Ia memiliki kuantitas intensif yang memiliki sebuah derajat.

3.     Analogi tentang pengalaman

Prinsip ini: pengalaman hanya terjadi melalui representasi melalui hubungan yang diperlukan dalam persepsi

a.     Analogi pertama

Prinsip keabadian substansi. Dalam semua perubahan fenomena substansi bersifat permanen dan kuantum di alam tidak meningkat atau berkurang

b.     Analogi kedua

Prinsip suksesi waktu menurut hokum kausalitas. Semua perubahan terjadi sesuai dengan hokum hubungan sebab dan akibat.

c.     Analogi ketiga

Prinsip koeksistensi sesuai dengan hukum timbal balik atau komunitas. Semua substansi, sejauh mereka dapat dirasakan dalam ruang pada saat yang sama, ada dalam sebuah keadaan yang sepenuhnya merupakan aksi timbal balik.

4.     4 postulat pemikiran empiris

a.     Hal-hal yang sesuai dengan kondisi formal (intuisi dan konsepsi) dalam pengalaman adalah hal yang mungkin.

b.     Apa yang merupakan koherensi dengan kondisi-kondisi material dalam pengalaman (penginderaan) adalah nyata.

c.     Sesuatu yang merupakan koherensi dengan realitas ditentukan berdasarkan kondisi universal dari pengalaman sangat diperlukan.

Sanggahan Terhadap Idealisme

Idealisme, yang dimaksud penulis yaitu idealisme material adalah teori yang menyatakan bahwa eksistensi objek-obejk dalam ruang tanpa kehadiran kita adalah 1) meragukan dan tidak dapat ditunjukkan atau 2) palsu dan mustahil.

Yang pertama adalah idealism problematis dari Descartes yang mengakui kepastian yang tidak meragukan sesuatu hanya berdasarkan satu pernyataan empiris yakni “AKU ADA”.

Yang kedua adalah idealisme Dogmatis Berkeley yang berpendapat bahwa ruang bersama-sama dengan semua objek dengan kondisi yang tidak terpisahkan adalah benda yang dalam dirinya sendiri mustahil dan bahwa akibatnya objek-objek dalam ruang adalah produk dari imajinasi.

Teori dogmatis tentang idealisme memang tidak dapat dihindari. Akan tetapi bukti yang diperlukan yang menunjukkan bahwa kita memiliki pengalaman mengenai benda-benda eksternal dan bukan sekadar khayalan. Untuk itu, kita harus membuktikan bahwa pengalaman internal yang bagi Descartes merupakan pengalaman yang pasti, dengan sendirinya sangat mungkin hanya jika ada dalam asumsi sebelumnya dari pengalaman eksternal.

Dalil

Kesadaran yang sederhana namun secara empiris merupakan kepastian tentang eksistensi saya sendiri membuktikan eksistensi objek-objek eksternal dalam ruang.

Komentar 1: pembaca akan mengamati bahwa berdasarkan bukti, bahwa idealisme diterapkan kepada dirinya sendiri dan diterapkan dengan lebih adil.

Komentar 2: berdasarkan pandangan ini, semua penggunaan empiris dalam fakultas kognisi kita dalam penentuan waktu berada dalam kesesuaian yang sempurna

Komentar 3: berdasarkan fakta bahwa eksistensi benda-benda eksternal merupakan kondisi yang diperlukan kemungkinan bagi sebuah kesadaran yang ditentukan oleh diri kita sendiri.

BAB III LANDASAN PEMBAGIAN SEMUA OBJEK KE DALAM FENOMENA DAN NOMENA

1.     Mengenai kategori kuantitas, yaitu konsepsi tentang semuanya, yang banyak dan yang satu, konsepsi tersebut meniadakan semuanya yaitu konsepsi dari tidak ada yang bertentangan dengannya.

2.     Realitas adalah sesuatu, penyangkalan bukan sesuatu yaitu sebuah konsepsi mengenai tiadanya objek sebagai sesuatu yang hampa dan sebagai bayangan

3.     Bentuk intuisi saja tanpa substansi dalam dirinya sendiri tidak ada objek, tapi hanya merupakan kondisi formal dari sebuah objek (sebagai fenomena), sebagai ruang dan waktu yang murni.

4.     Objek dari sebuah konsepsi yang berlawanan dengan dirinya sendiri adalah bukan sesuatu, karena konsepsi tentang bukan sesuatu adalah mustahil sebagai sebuah gambar yang disusun dari dua garis lurus (nihil negativum).

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filsafat Bagian 1 (Filsafat Bagian 1 by Prof.Dr. Marsigit, M.A https://youtu.be/8t3lalvQbiQ)