" Metodologi Filsafat" Refleksi Pertemuan 10 Filsafat Ilmu dengan Prof. Dr. Marsigit, M.A
Ketika seseorang akan mengangkat judul metode filsafat. Orang tersebut bisa menelusuri metode filsafat dari hakikat filsafat atau ontologisnya, metode filsafat dari metode filsafat atau epistemologinya serta metode filsafat dari etika dan estetikanya atau aksiologinya. Ini dikarenakan tidak ada epistemologi tanpa aksiologi dan ontologi, tidak ada ontologi tanpa epistemologi dan aksiologi dan tidak ada aksiologi tanpa ontologi dan epistemologi. Maka semua perkara atau semua hal itu terkait pada tiga pilar tersebut yaitu hakikat, pendekatan atau metode dan manfaatnya.
Metodologi
filsafat berdasarkan ontologinya adalah berbicara mengenai yang ada dan yang
mungkin ada. Setiap yang ada dan yang mungkin ada adalah sifat yang mempunyai
sifat atau metafisik dan merupakan sifat yang tidak berhenti kecuali berhenti
pada suatu titik yaitu kuasa Tuhan. Sehingga metode berpikir dari sisi yang ada
dan yang mungkin ada di bagi dua, yaitu yang ada sebagai fatal dan yang ada
sebagai vital, yang ada sebagai takdir dan yang ada sebagai ikhtiar/potensi.
Kemudian yang takdir dan potensi bisa tetap dan berubah. Bagi Tuhan, semua
adalah takdir dan bagi manusia takdir adalah yang sudah terjadi atau yang
terpilih, sedangkan ikhtiar bagi manusia adalah semua yang belum terjadi atau
memilih dan bagi Tuhan semua adalah ketetapannya di mana tidak ada yang bisa
membantah.
Tetap
atau pun yang berubah, semua ada strukturnya yaitu struktur takdir dan struktur
ikhtiar. Bagi manusia struktur takdir bersifat tetap sedangkan struktur ikhtiar
bersifat tetap dan bersifat berubah. sedangkan kalau menurut kodratnya (kuasa
Tuhan) takdir itu bisa tetap dan bisa berubah sesuai dengan kuasanya. Jadi jika
kita berbicara mengenai struktur atau ontologi padahal tidak ada ontologi tanpa
epistemologi, maka struktur itu epistemologi, ontologi dan aksiologi.
Struktur
yang paling sederhana adalah fatal dan vital. Kemudian jika pikiran manusia
maka struktur yang paling sederhana adalah wadah dan isi. Karena pikiran
manusia ada yang tetap dan berjalan, maka struktur manusia juga ada dua yaitu
struktur tetap dan struktur yang berjalan. Bahasan ini adalah sebagai bentuk
ontologi, tapi jika kita membahas mengenai ontologi, maka ini juga termasuk
epistemologi dan aksiologi. Oleh karena itu, kalau struktur itu tetap mau pun
berjalan maka akan meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Kenapa demikian?
Karena pikiran manusia dan di atasnya terdapat kuasa Tuhan yang meliputi
pikiran manusia, hati manusia, kehidupan manusia, keselamatan manusia dan
seterunya.
Jikalau
hal tersebut mengalir dalam ruang dan waktu, maka ada aliran atau perjalanan
struktur dalam ruang dan waktu tersebut yaitu forma atau bentuk dan substansi
atau isinya. Jika isi adalah ikhtiarnya, maka bentuk atau formanya adalah
takdir. Manusia beraktivitas dan berkiprah di dalam takdir yang diciptakan
Tuhan. Selanjutnya jika kita berbicara mengenai wadah dan isi itu sebagai objek
pikiran manusia, maka ada dua macam objek yaitu objek di dalam pikiran dan
objek di luar pikiran. Misalnya remot speaker yang diperlihatkan kepada Anda
maka Anda dapat mengatakan bahwa remot speaker itu ada secara objek di luar
pikiran. Namun setelah remot itu dipindahkan dari hadapan Anda maka Anda masih
bisa mengetahui bahwa remot tersebut berwarna hitam karena objeknya sudah di
dalam pikiran Anda. Oleh karena itu, jika kita memikirkan sesuatu maka objeknya
bisa berada di luar pikiran, bisa berada di dalam pikiran dan bisa berada di kedua-duanya.
Kalau
kita percaya bahwa sesuatu itu hanya ada satu maka disebut monisme. Itulah
kenapa orang yang percaya bahwa Tuhan itu satu disebut monoteisme. Sedangkan jika
kita percaya sesuatu itu ada dua makan disebut dengan dualisme. Kalau monisme
itu sebagai hakikat, maka kita menemukan ada ontologi monisme, ada epistemologi
monisme dan ada aksiologi monisme. Sehingga dapat dikatakan bahwa dunia monisme
itu lengkap, ada ontologinya, epistemologinya dan ada aksiologinya. Demikian
juga dengan dualisme lengkap, sama dengan monisme. Berbicara mengenai filsafat
maka kita berbicara mengenai isme. Isme itu apa? Isem adalah pusat. Mono itu
apa? Mono itu satu. Jadi monisme adalah pusatnya ada satu. Kalau dua artinya
dualisme dan kalau banyak berarti pluralisme.
Paham
yang menganut pluralisme mempercayai
bahwa sumber kebenaran itu banyak. Dunia pluralisme ada ontologinya, ada
epistemologinya dan ada aksiologinya di mana aksiologinya adalah etika dan
estetika. Etika dan estetika adalah yang dianggap bermanfaat dan dianggap baik.
Jadi orang jepang itu menganut paham pluralisme sedangkan orang Indonesia menganut
paham monisme sehingga tidak dapat dibanding-bandingkan etika dan estetikanya
karena pada dasarnya berbeda secara ontologi, epistemologi dan aksiologi.
Berbicara
mengenai Pancasila, Pancasila menganut paham monodualisme. Maksud dari
monodualisme Pancasila adalah hablumminallah dan hablumminannas, di mana hidup
manusia untuk beribadah kepada Tuhan dan harus bersosialisasi sesama manusia.
Di belahan dunia lain tidak ada landasan yang bermonidualisme selain Indonesia.
Oleh karena itu, jika ingin mencintai Indonesia/NKRI dari Sabang sampai Merauke
maka harus menerapkan filsafat dasar negaranya yaitu monodualisme.
Melanjutkan
penjelasan mengenai isme bahwa isme itu mencakup semuanya. Isme menurut Prof.
Marsigit secara ontologi bahwa semua bisa dijadikan sebagai isme. Misal
pusatnya adalah HP maka dapat disebut bahwa HPisme, kalau pusatnya makanan maka
kita dapat menyebutnya makananisme, kalau pusatnya keluarga maka dapat disebut
keluargaisme dan seterusnya yang hanya ditemukan di Indonesia khususnya di mata
kuliah Prof. Marsigit, inilah yang disebut sebagai ilmu sendiri.
Setelah
kita dapat memahami isme adalah pusat maka bisa bermanfaat dan bisa juga
berbahaya. Humanisme pada filsafat artinya adalah berpusat pada manusia yang
bisa membahayakan manusia karena bisa meminggirkan Tuhan. Sedangkan kalau
filsafat yang berpusat pada Tuhan atau disebut dengan teisme yang ilmunya
menjadi teologi. Jika berpusat pada material atau orang-orang yang percaya
kepada material seperti orang-orang di China jaman dulu yang komunis. Sedangkan
orang-orang yang berdasarkan pada modal dan bisnis maka disebut dengan
kapitalisme. Kalau yang hidupnya dari lahir hanya mementingkan keuntungan maka
disebut Yutilitarialisme. Kalau yang hidupnya hanya untuk mencari kemerdekaan
yang absolut maka disebut dengan liberalisme. Kalau hidupnya itu menyesuaikan
dengan keadaan/relatif maka disebut dengan relativisme. Kalau hidupnya yang
hanya berdasarkan dan mengandalkan pada pikir adalah rasionalisme. Kalau
hidupnya hanya mengandalkan pada pengalaman maka filsafatnya adalah empirisme.
Kalau hidupnya hanya mengandalkan ilmu pengetahuan makan disebut saintisisme.
Kalau hidupnya hanya mengandalkan metode penelitian maka disebut dengan
positifisme. Kalau hidupnya hanya mengandalkan kolaborasi maka filsafatnya
adalah kolaborasionisme. Kalau hidupnya percaya bahwa segala sesuatu itu
mempunyai landasan namanya pondasionalisme. Maka ilmu yang bersifat intuitif
anti terhadap pondasionalisme. Kalau yang hidupnya selalu absolut di cmana
dirinya yang selalu benar dan yang lain salah maka disebut absolutisme. Kalau
hidupnya berpusat kepada masyarakat maka disebut dengan sosialisme demikian
seterusnya menurut Prof. Marsigit secara ontologi semua bisa dijadikan isme.
Komentar
Posting Komentar