LAPORAN PERTANYAAN-PERTANYAAN PARADIGMA YANG DITURUNKAN DARI BUKU THE PHILOSOPHY OF MATHEMATICS EDUCATION TODAY KARYA PAUL ERNEST
A. KEGIATAN 1: IDEOLOGI PENDIDIKAN
1.
Radikal
Ideology
pendidikan radikal ini tercermin pada perilaku warga negara yang tidak puas
terhadap keadaan yang ada serta menginginkan perubahan yang cepat dan mendasar,
tidak kenal kompromi dan tidak mengindahkan orang lain yang cenderung ingin
menang sendiri.
2.
Konservatif
Soeharto
K (2020), Ideologi pendidikan konservatisme, pada dasarnya mendukung ketaatan
terhadap lembaga-lembaga dan prosesproses budaya yang sudah teruji oleh waktu,
disertai dengan rasa hormat yang mendalam terhadap hukum serta tatanan sosial
yang baku, sebagai landasan bagi perubahan sosial yang konstruktif. Dalam hal
pendidikan, kaum konservatif menganggap bahwa sasaran utama sekolah adalah
pelestarian dan penerusan struktur dan sistem sosial serta pola-pola berikut
tradisi-tradisi yang sudah mapan. Ada dua variasi mendasar di dalam ideologi
pendidikan konservatisme: (a) ideologi pendidikan konservatisme religius,
menekankan pelatihan rohani sebagai pusat landasan watak moral yang tepat; (b)
ideologi pendidikan konservatisme sekular, pe-duli pada perlunya pelestarian
dan penyaluran keyakinan-keyakinan dan praktik-praktik yang ada sebagai sebuah
jalan untuk memastikan pertahanan hidup secara sosial sekaligus keefektifan
personal.
3.
Liberal
Soeharto
K (2020), Ideologi pendidikan liberal bertujuan untuk melestarikan dan
memperbaiki tatanan sosial yang ada, dengan cara membelajarkan setiap siswa
sebagaimana caranya menghadapi persoalan-persoalan dalam kehidupannya sendiri
secara efektif. Ideologi pendidikan liberasionisme, menganggap bahwa manusia
mesti mengusahakanpembaruan/perombakan segera dalam ruang lingkup besar atas
tatanan politis yang ada, sebagai jalan menuju perluasan kebebasan individual
serta untuk mempromosikan perwujudan potensi-potensipersonalsepenuhnya.
4.
Humanis
Kaum old
humanist, memiliki pandangan yang berpusat pada diri manusia, bukan pada
Tuhan. Matematika dipandang sebagai Structure of truth (struktur
kebenaran). Nilai moral diajarkan oleh orang tua kepada anaknya. Hal ini
memandang orang tua memiliki peran dalam menentukan moral anaknya.
Teori
sosial old humanist yang menyatakan bahwa masyarakat harus
melestarikan budaya telah sesuai dengan landasan yuridis kurikulum 2013 yang
menyatakan bahwa kualifikasi pengetahuan yang dimiliki siswa adalah memiliki
pengetahuan faktual dan konseptual tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni,,
dan budaya dalam wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban.
Kaum ini menyatakan bahwa hakekat siswa dalam pembelajaran harus ditanamkan
nilai-nilai karakter. Menurut pandangan ini, bakat dan matematika genius yang
diwariskan, dan kemampuan matematika dapat diidentifikasi dengan kecerdasan
murni. Pendidikan diberikan agar siswa mengetahui bakat mereka sendiri dan
mampu mengembangkannya.
Guru
dapat menggunakan sumber belajar lainnya untuk memotivasi atau memfasilitasi
pemahaman siswa. Peran guru dalam perspektif ini adalah mengkomunikasikan
matematika yang bermakna. Penilaian dalam kaum Old Humanist ini
menggunakan test eksternal yang didasarkan pada susunan terstruktur pada materi
pelajaran matematika dan pada jumlah atau tingkat yang sesuai dengan kemampuan
matematika. Guru dituntut untuk lebih kreatif dalam penyampaian bahan ajar,
agar peserta didik lebih mengerti dalam aplikasinya. Untuk keragaman sosial,
matematika bertujuan untuk memanusiakan manusia untuk tujuan pendidikan.
5.
Progresif
Kaum
progressive memiliki sikap politik bebas dan ingin maju terus, selalu
menginginkan perubahan progresif dan cepat. Matematika dipandang
sebagai process of thinking (proses berpikir). Matematika lebih
menekankan aktivitas dalam dunia rasio atau penalaran yang terbentuk sebagai
hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses, dan penalaran.
Teori progressivism sebetulnya
merupakan perluasan pikiran-pikiran pragmatism pendidikan. Teori ini memandang
siswa sebagai makhluk sosial yang aktif. Kaum progressive educator yang
menganut paham liberal, bebas tanpa adanya batasan dari
pemerintah. Hakekat siswa di progressive educator ini adalah
berorientasi pada siswa (students centered). Pada kaum ini, siswa merupakan
subjek yang aktif dalam kegiatan pembelajaran. Pada kaum ini diperlukan
adanya kerjasama antara guru dan siswa serta siswa dan siswa. Teori
kemampuan siswa di progressive educator adalah hal yang dibutuhkan.
Maksudnya adalah siswa belajar dan tumbuh melalui pengalaman secara fisik dan
dunia sosial.
6. Sosial
Wikandaru
dan Cahyo (2016), Sosialisme adalah ideologi yang beranggapan bahwa pemilikan
bersama merupakan cara hidup yang paling baik. Sosialisme tidak menyukai adanya
hak milik pribadi karena hak milik pribadi membuat manusia egois dan
menghancurkan keselarasan masyarakat yang alami. Sosialisme menginginkan
pengorganisasian produksi oleh negara sebagai saran untuk menghapus kemiskinan
dan penghisapan orang kecil. Sosialisme menyerukan persamaan hak bagi semua
lapisan, golongan, dan kelas masyarakat dalam menikmati kesejahteraan, kekayaan
dan kemakmuran. Sosialisme menginginkan pembagian keadilan dalam ekonomi. Tugas
negara adalah mengamankan sebanyak mungkin faktor produksi untuk kesejahteraan
seluruh rakyat, dan bukan terpusat pada kesejahteraan pribadi. Sosialisme
menganggap bahwa negara adalah lembaga di atas masyarakat yang mengatur
masyarakat tanpa pamrih. Nilai-nilai utama dalam sosialisme adalah kesamaan,
kerja sama, dan kasih sayang. Produksi dilakukan atas dasar kegunaan dan bukan
untuk mencari keuntungan sematamata. Persaingan yang kompetitif digantikan
dengan perencanaan. Setiap orang bekerja demi komunitas dan memberi kontribusi
pada kebaikan bersama sehingga muncul kepedulian terhadap orang lain. Kedua,
landasan ontologis yang mendasari sosialisme berkaitan dengan kodrat etis
manusia; sifat kodrati manusia; dan harmoni tatanan masyarakat. Sosialisme
berpendapat bahwa kodrat etis manusia adalah baik; sifat kodratinya adalah
bersifat sosial; dan menganggap bahwa ada harmonitas atau keselarasan dalam tatanan
masyarakat.
7. Demokrasi
Firdaus
(2016), menurut Soekarno tentang demokrasi pendidikan adalah, bahwa proses
pendidikan itu harus dilaksanakan secara demokratis, dengan tujuan agar peserta
didik dapat belajar tanpa dihinggapi perasaan takut dan tertekan, mereka dapat
belajar dengan senang, bebas dan penuh keceriaan. Yang ditekankan Soekarno di
sini terletak pada bentuk dan proses belajar-mengajarnya, diharapkan dari
proses tersebut dapat menumbuhkan sikap peserta didik yang kritis, demokratis,
terbuka dan bebas dalam mengemukakan pendapat dan melakukan tindakan.
Dari
uraian diatas, ideology pendidikan yang paling sesuai untuk dipraktekkan dalam
pembelajaran matematika adalah ideology pendidikan demokrasi dimana pendidikan
itu harus dilaksanakan secara demokratis, dengan tujuan agar peserta didik
dapat belajar tanpa dihinggapi perasaan takut dan tertekan, mereka dapat
belajar dengan senang, bebas dan penuh keceriaan.
B.
KEGIATAN
2: HAKIKAT PENDIDIKAN
Macam-macam Hakikat Pendidikan
1.
Obligation
Pendidikan
pada dasarnya adalah kewajiban setiap individu dalam rangka untuk meningkatkan
potensi diri mereka.
2.
Preserving
Hakikat
Pendidikan adalah dengan pendidikan seseorang diharapkan mampu melestarikan budaya yang sudah ada.
3.
Exploiting
Hakikat
Pendidikan adalah memanfaatkan kemampuan yang telah mereka dpaatkan dalam
proses pendiidkan yang menghasilkan perubahan dalam rangka meningkatkan
kualitas individu.
4.
Transforming
Hakikat
Pendidikan adalah dengan adanya pendidikan ada perubahan yang terjadi dalam
diri masing-maisng individu, contohnya perubahan dari yang jelek menjadi baik,
dari bodoh menjadi pintar, dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak
terampil menjadi terampil dst.
5.
Liberating
Hakikat
Pendidikan adalah usaha untuk membebaskan manusia dari berbagai bentuk
penindasan dan ketertindasan.
6.
Needs
Pendidikan
adalah kebutuhan bagi setiap individu karena dengan pendidikan dapat
mencerdaskan siswa serta membentuk manusia seutuhnya yaitu manusia yang
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
7.
Democracy
Hakikat
Pendidikan demokrasi itu adalah kebebasan, setiap individu mendapat peluang
yang sama dalam menerima kesempatan dan perlakuan pendidikan.
Dari
uraian di atas, Hakikat Pendidikan yang saya pilih yaitu demokrasi, karena
dengan pendidkan yang demokrasi, siswa pada dasarnya mendapatkan kesempatan
yang sama dan bebas menentukan materi apa yang ia ingin pelajari dalam proses
pembelajaran di kelas
C.
THE
NATURE OF MATHEMATICS (HAKIKAT MATEMATIKA)
1.
Body of Knowledge (Tubuh Pengetahuan)
Matematika
sebagai tubuh pengetahuan. Banyak ilmu-ilmu yang penemuan dan pengembangannya
bergantung dari matematika antara lain:
a. Penemuan
dan pengembangan Teori Mendel dalam Biologi melalui konsep Probabilitas.
b. Perhitungan
dengan bilangan imajiner digunakan untuk memecahkan masalah tentang
kelistrikan.
c. Dengan
matematika, Einstein membuat rumus yang dapat digunakan untuk menaksir jumlah
energi yang dapat diperoleh dari ledakan atom.
d. Dalam
ilmu pendidikan dan psikologi, khususnya dalam teori belajar, selain digunakan
statistik juga digunakan persamaan matematis untuk menyajikan teori atau model
dari penelitian
e. Dalam
ilmu kependudukan, matematika digunakan untuk memprediksi jumlah penduduk dll.
f.
Dalam seni grafis, konsep transformasi
geometric digunakan untuk melukis mosaik.
g. Dalam
seni musik, barisan bilangan digunakan untuk merancang alat musik.
h. Banyak teori-teori dari Fisika dan Kimia
(modern) yang ditemukan dan dikembangkan melalui konsep Kalkulus.
i.
Teori Ekonomi mengenai Permintaan dan
Penawaran dikembangkan melalui konsep Fungsi Kalkulus tentang Diferensial dan
Integral.
2.
Science of truth
Matematika
dipandang sebagai Science of truth (Kebenaran Ilmu). Ukuran
kebenaran ilmu adalah rasionalisme dan empirisme sehingga kebenaran ilmu
bersifat empiris dan rasional. Sedangkan menurut Immanuel Kant, matematika
merupakan cara berpikir logis yang salah atau benarnya dapat ditentukan tanpa
mempelajari dunia empiris. Jadi menurut Immanuel Kant dalam pembelajaran
matematika tidak penting adanya suatu pengalaman, yang terpenting adalah
logika. Sesuatu hal dapat dibuktikan secara teoritis berdasarkan penalaran
(logika) saja, tanpa perlu mengamati, melakukan, atau mengalaminya secara
langsung.
Pada konsep
ideal kurikulum 2013, pelaksanaan proses pembelajaran matematika di sekolah
justru mengarahkan siswa untuk membuktikan sesuatu hal berdasarkan pengalaman
langsung. Siswa diminta untuk melakukan percobaan secara langsung, kemudian
melakukan pengamatan terhadap percobaan yang telah dilakukan, kemudian membuat
sebuah kesimpulan atau pembuktian terhadap sesuatu hal yang diteliti. Dalam hal
ini, siswa tidak hanya menggunakan logika (penalaran) dalam membuat sebuah
kesimpulan atau pembuktian, namun siswa juga akan menggunakan pengalaman
empirisnya. Dengan demikian, kebenaran yang akan diperoleh tidak hanya sesuai
dengan teori yang ada, namun juga akan sesuai dengan keadaan nyata (pengalaman)
yang telah dialami oleh siswa.
3.
Structure of truth
Matematika
merupakan ilmu terstruktur yang terorganisasikan. Hal ini karena matematika
dimulai dari unsur yang tidak didefinisikan, kemudian unsur yang didefinisikan
ke aksioma / postulat dan akhirnya pada teorema. Konsep-konsep amtematika
tersusun secara hierarkis, terstruktur, logis, dan sistimatis mulai dari konsep
yang paling sederhana sampai pada konsep yang paling kompleks. Oleh karena itu
untuk mempelajari matematika, konsep sebelumnya yang menjadi prasyarat, harus benar-benar
dikuasai agar dapat memahami topik atau konsep selanjutnya. Dalam pembelajaran
matematika guru seharusnya menyiapkan kondisi siswanya agar mampu menguasai
konsep-konsep yang akan dipelajari mulai dari yang sederhana sampai yang lebih
kompleks. Contoh seorang siswa yang akan mempelajari sebuah volume kerucut
haruslah mempelajari mulai dari lingkaran, luas lingkaran, bangun ruang dan
akhirnya volume kerucut. Untuk dapat mempelajari topik volume balok, maka siswa
harus mempelajari rusuk / garis, titik sudut, sudut, bidang datar persegi dan
persegi panjang, luas persegi dan persegi panjang, dan akhirnya volume balok.
4.
Process of Thinking.
Matematika
dikenal sebagai ilmu deduktif, karena proses mencari kebenaran (generalisasi)
dalam matematika berbeda dengan ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan yang
lain. Metode pencarian kebenaran yang dipakai adalah metode deduktif, tidak
dapat dengan cara induktif. Pada ilmu pengetahuan alam adalah metode induktif
dan eksperimen. Walaupun dalam matematika mencari kebenaran itu dapat dimulai
dengan cara induktif, tetapi seterusnya generalisasi yang benar untuk semua
keadaan harus dapat dibuktikan dengan cara deduktif. Dalam matematika suatu
generalisasi dari sifat, teori atau dalil itu dapat diterima kebenarannya
sesudah dibuktikan secara deduktif
5.
Social Activities
Matematika
digunakan manusia untuk memecahkan masalahnya dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh :
a. Memecahkan
persoalan dunia nyata
b. Mengadakan transaksi jual beli, maka manusia
memerlukan proses perhitungan matematika yang berkaitan dengan bilangan dan
operasi hitungnya
c. Menghitung
luas daerah
d. Menghitung
jarak yang ditempuh dari suatu tempat ke tempat yang lain
e. Menghitung
laju kecepatan kendaraan
Dari uraian di atas,
hakikat matematika yang paling sesuai dengan praktek pembelajaran matematika
adalah social activities karena sebenarnya matematika itu adalah aktivitas
sosial yang di ilmukan menjadi ilmu matematika.
D.
HAKIKAT
MATEMATIKA SEKOLAH
1. Cari pola dan hubungan
Matematika
disebut sebagai ilmu tentang pola karena pada matematika sering dicari
keseragaman seperti keterurutan, keterkaitan pola dari sekumpulan konsep-konsep
tertentu atau model yang merupkan representasinya untuk membuat generalisasi.
Misal : Jumlah a bilangan genap selamanya sama dengan a2 .
Contoh
: a = 1 maka jumlahnya = 1 = 12 . Selanjutnya 1 dan 3 adalah bilangan-bilangan
ganjil jumlahnya adalah 4 = 22 . Berikutnya 1, 3, 5, dan 7, maka jumlahnya
adalah 16 = 42 dan seterusnya. Dari contoh-contoh tersebut, maka dapat dibuat
generalisasi yang berupa pola yaitu jumlah a bilangan ganjil yang berurutan
sama dengan a2 . Matematika disebut ilmu tentang hubungan karena konsep
matematika satu dengan lainnya saling berhubungan. Misalnya : Antara persegi panjang
dengan balok, antara persegi dengan kubus, antara kerucut dengan lingkaran,
antara 5 x 6 = 30 dengan 30 : 5 = 6. Antara 102 = 100 dengan 100 = 10. Demikian
juga cabang matematika satu dengan lainnya saling berhubungan seperti
aritmatika, aljabar, geometri dan statistika, dan analisis
2. Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematika
adalah kegiatan problem solving. Guru berupaya mengembangkan pembelajaran
sehingga menimbulkan masalah matematika yang harus dipecahkan oleh siswa dengan
menggunakan cara mereka sendiri.
3. Investigasi
Salah
cara pembelajaran matematika yang diharapkan dapat mendorong siswa untuk
menemukan proses matematika sedemikian rupa sehingga mengalami sendiri dan
melalui proses matematika adalah kegiatan investigasi matematika. Hal ini untuk
mengikuti pandangan matematika yang cenderung inkuiri; matematika tersajikan
secara relevan sesuai dengan tahap berpikir anak; serta pembelajaran yang
berangkat dari pengalaman dan kebutuhan anak.
Kegiatan
investigasi matematika memiliki beberapa karakteristik, yaitu : ‘open ended;
finding pattern; self-discovery; reducing the teacher’s role; not helpful
examination; not worthwwhile; not doing reaal math; using one’s own methed;
being exposed; limited to the teacher’s experience; not being in control; divergen.’
(Edmmond & Knight, 1983, dalam Grimison & Dawe, 2000 : 6)
4. Komunikasi
Matematika adalah bahasa yang
melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin disampaikan. Menurut
Fathoni matematika dipandang sebagai bahasa karena “dalam matematika terdapat
sekumpulan lambang/simbol dan kata (baik kata dalam bentuk lambang)”. Misalnya
“ >” yang melambangkan kata “lebih besar”, maupun kata yang diadobsi dari
bahasa biasa, misalnya kata “fungsi” yang dalam matematika menyatakan suatu
hubungan dengan aturan tertentu antara unsur-unsur dalam dua buah himpunan.
Simbol-simbol matematika bersifat “artificial” yang baru memiliki arti setelah
sebuah makna diberikan kepadanya. Tanpa itu, maka matematika hanya merupakan
kumpulan simbol dan rumus yang kering akan makna. Berkaitan dengan hal ini,
tidak jarang kita jumpai dalam kehidupan, banyak orang yang berkata bahwa X, Y,
Z itu sama sekali tidak memiliki arti.
kemampuan
komunikasi dalam matematika adalah kemampuan siswa membaca wacana matematika
dengan pemahaman, mampu mengembangkan bahasa dan simbol matematika sehingga
dapat mengkomunikasikan secara lisan dan tulisan, mampu menggambarkan secara
visual dan merefleksikan gambar atau diagram ke dalam ide matematika, mampu
merumuskan dan mampu memecahkan masalah melalui penemuan.
E.
Nilai
Moral Pada Pendidikan Matematika
Adapun nilai-nilai Moral pada Pendidikan
Matematika sebagai berikut:
1.
Good vs Bad
Matematika
adalah tunggal. Kebenaran dan kesalahan di dalam metematika bersifat absolut.
Benar adalah benar, sedangkan salah adalah salah
2.
Pragmatism
Pragmatisme adalah
aliran filsafat yang
mengajarkan bahwa yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya
sebagai benar dengan melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat
secara praktis. Dengan demikian,
bukan kebenaran objektif dari pengetahuan yang penting melainkan bagaimana
kegunaan praktis dari pengetahuan kepada individu-individu.
Dasar dari pragmatisme adalah logika pengamatan,
dimana apa yang ditampilkan pada manusia dalam
dunia nyata merupakan fakta-fakta individual, konkrit, dan terpisah satu sama lain. Dunia ditampilkan apa adanya dan
perbedaan diterima begitu saja. Representasi realitas yang muncul di pikiran
manusia selalu bersifat pribadi dan bukan merupakan fakta-fakta umum. Ide menjadi
benar ketika memiliki fungsi pelayanan dan kegunaan. Dengan demikian, filsafat pragmatisme
tidak mau direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kebenaran, terlebih
yang bersifat metafisik,
sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan filsafat Barat di
dalam sejarah.
3.
Hierarkhies Paternalistics
Sistem
kepemimpinan yang berdasarkan hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin,
seperti hubungan antara ayah dan anak. Artinya nilai moral diajarkan oleh orang
tua kepada anaknya. Hal ini memandang orang tua memiliki peran dalam menentukan
moral anaknya
4.
Humanity
Pembelajaran matematika harus
mengubah. pandangan dari “as
tool” menjadi “as human.
ilai-Nilai Kemanusiaan (Human Values) terdiri dari Kebenaran, Kebajikan, dan kedamaian dalam
matematika.
5.
Justice Freedom
Seseorang
bebas melakukan segala sesuatu yang diinginkannya tanpa memandang baik atau
buruknya.
F.
Nilai-nilai
Pendidikan Matematika
Adapun nilai-nilai pendidikan matematika
sebagai berikut:
1.
Intrinsik
Matematika bernilai intrinsik jika seseorang menguasai
matematika hanya untuk dirinhya.
2.
Ekstrinsik
Matematika bernilai ekstrinsik jika ia bisa menerapkan
matematika dalam kehidupan.
3.
Sistemik
Jika seseorang mampu menggunakan pengetahuan matematika
untuk bergaul dengan masyarakat
G.
Hakikat
Siswa (The Nature of Students)
Adapun hakikat siswa antara lain:
1.
Empty Vessel
Dalam paradigma pendidikan lama, siswa bagaikan tong kosong
yang diisi air oleh gurunya. Siswa diibaratkan tidak mengetahui apa-apa dan
semua pengetahuan bersumber dari guru.
2.
Character Building
Dalam
pendidikan, harus memperhatikan pendidikan karakter disamping aspek kognitif. Kebanyakan orang menganggap bahwa kesuksesan hanya
diukur dengan menggunakan parameter pengetahuan/hafalan semata dan cenderung
apatis terhadap hal-hal yang berkaitan dengan nilai-nilai karakter itu sendiri.
Pendidikan karakter merupakan salah satu opsi yang harus dioptimalkan dalam
sistem pendidikan di Indonesia.
3.
Creativity
Dalam
pendidikan, Kreativitas siswa adalah bagaimana
siswa menghasilkan produk berkaitan
dengan penemuan sesuatu, memproduksi sesuatu yang baru, bukan merupakan
akumulasi ketrampilan atau berlatih pengetahuan dan mempelajari buku.
Kreativitas bukanlah ciri kepribadian, akan tetapi ketrampilan atau proses yang
menghasilkan produk yang kreatif yang memang sudah ada di dalam dirinya (Wodfok,
2003 dalam www.depdiknas.go.id).
4.
Growing like a seed Constructing
Siswa
itu akan tumbuh seperti benih. Sekolah
ibarat ladang, dan benih yang akan ditabur adalah murid. Guru adalah petaninya. Jika kita menanam benih
pada ladang yang subur, lalu kita merawat dan memelihara benih tersebut hingga
tumbuh, besar, dan kuat. Menyiram dan memupuknya dengan teratur. Percayalah
benih itu tentu akan bertumbuh menjadi tanaman yang menghasilkan buah yang baik
dan memuaskan kita sebagai petaninya.
Akan tetapi sebaliknya, jika kita hanya
menanam benih dilahan yang tidak dipersiapkan pengolahannya lalu tidak merawat
dan menjaganya sungguh-sungguh, tidak menyirami dan memupuknya dengan teratur,
maka bukan tumbuhan yang subur dan kuat yang akan kita peroleh, tetapi yang
akan kita panen adalah rumput ilalang dan semak-semak.". begitulah
perumpaan siswa tumbuh seperti benih dan guru sebagai petaninya.
H.
Hakikat
Kemampuan Siswa
1.
Talent Given
Bakat adalah suatu kemampuan yang dimiliki oleh seseorang siswa dimana
kemampuan tersebut sudah melekat dalam dirinya dan dapat digunakan untuk
melakukan hal-hal tertentu dengan lebih cepat dan lebih baik dibandingkan
dengan orang biasa. Pendapat lain mengatakan bakat adalah kemampuan yang ada di
dalam diri seseorang sejak lahir dimana kemampuan tersebut dapat digunakan
untuk mempelajari sesuatu dengan cepat dan dengan hasil yang baik.
Setiap orang memiliki bakat yang berbeda-beda dan bentuknya sangat beragam.
Misalnya dalam kelas tersebut memang ada siswa berbakat dala bidang matematika
da nada juga tidak berbakat dalam bidang matemati tetapi dia berbakat pada
bidang lain. Dalam hal ini bakat juga dipengaruhi beberapa faktor karena suatu
bakat bisa cepat atau lambat berkembang
2.
Effort
Upaya menurut
kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai usaha kegiatan yang
mengarahkan tenaga, pikiran untuk mencapai suatu tujuan. Upaya juga berarti usaha, akal,
ikhtiar untuk mencapai suatu maksud,
memecahkan persoalan mencari jalan keluar.
3.
Need
kebutuhan belajar adalah kegiatan atau usaha yang dilakukan untuk hal-hal
yang diperlukan dalam belajar dan
hal-hal yang dapat membantu tercapainya tujuan belajar itu sendiri, baik itu proses belajar yang
berlangsung di lingkungan
keluarga (informal), sekolah (formal), maupun masyarakat (non-formal).
4.
Competency
kompetensi adalah: (1) Kemampuan yang sesuai dengan
kebutuhan; Kemampuan atau kecakapan yang cukup/memadai; Keadaan cakap, mampu,
tangkas. (2) Properti atau sarana penopang yang memadai untuk melengkapi
kebutuhan dan kenyamanan hidup tanpa jumlah yang berlebih-lebihan
5.
Culture
Kebudayaan adalah cara berpikir, cara bertindak, dan objek
material yang bersama-sama membentuk cara hidup manusia. Kebudaan meliputi apa
yang kita pikirkan, bagaimana kita bertindak, dan apa yang kita miliki.
6.
Contextual
Kontekstual
adalahs egala sesuatu yang berhubungan dengan konteks. Jadi hakekat kemampuan
siswa yang kontesktual yaitu kemampuan siswa yang memahami bagian materi yang
esensi saja.
Dari uraian di atas,
hakekat kemampuan siswa yang bagus dalam praktek pembelajaran matematika yaitu
competency (kompetensi) karena kompetensi itu adalah kemampuan yang sesuai
dengan kebutuhan yang ada. Jadi kemampuan siswa tersebut sesuai dengan konteks
pembelajaran matematika yang diajarkan.
I.
Tujuan
Pendidikan Matematika (The Aim of Mathematics Education)
1.
Back to Basic (Arithmetics)
Tujuan
pendidikan matematika kembali ke dasar kita sebagai manusia. Sebagaimana
diketahui bahwa matematika itu sendiri sebenarnya aktivitas sosial kita.
Contohnya yang paling jelas yaitu pada materi aritmatika. Aritmatika adalah
konsep pada pembelajaran matematika yang umumnya digunakan pada kehidupan
sehari-hari. Dalam materi ini membahas mengenai untung, rugi,
diskon, bruto, tara, neto, bunga dan pajak. Materi pada aritmatika ini semakin
jelas menyebutkan bahwa sebenarnya belajar matematika berarti belajar kembali
ke dasar kita sebagai manusia.
2.
Certification
Tujuan
pendidikan matematika selanjutnya yaitu mendapatkan bukti/ sertifikat.
Maksudnya disini sebagaimana kita ketahui selain menuntut ilmu, kita juga
belajar di sekolah untuk mendapatkan ijazah/ sertifikat yang membuktikan kalau
kita mumpuni dalam bidang tersebut dan telah teruji/ lulus.
3.
Transfer of knowledge
Tujuan
pendidikan matematika ini yaitu mentransfer pengetahuan dari guru kepada siswa
merupakan tujuan pendidikan matematika aliran behaviaorisme. Tujuan pendidikan
ini menganggap bahwa pengetahuan ini dimiliki oleh guru dan di berikan kepada
siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung.
4.
Creativity
Tujuan
pendidikan matematika selanjutnya yaitu untuk menumbuhkan kreativitas
seseorang. Sebagaimana kita ketahui, matematika syarat dengan langkah-langkah
yang begitu rumit. Sehingga dibutuhkan kreativitas siswa dalam mengerjakannya.
Contohnya saja soal cerita atau soal berbentuk open ended, disini terlihat sekali bahwa dituntut kreativutas
siswa dalam mengerjakan soal tersebut.
5.
To develop people comprehensively
Komprehensif berasal dari bahasa Inggris, yaitu
“comprehensive” yang artinya luas, menyeluruh, teliti dan
meliputi banyak hal. Istilah komprehensif digunakan untuk
menyatakan keadaan dimana sesuatu dapat menjelaskan keterangan secara lengkap
dan luas serta memberikan wawasan yang lebih.
Jadi
tujuan pendidikan matematika ini untul mengembangkan pengetahuan siswa secara
lengkap dan luas serta memiliki wawasan matematika yang lebih.
Dari
uraian di atas, tujuan pendidikan matematika yang paling bagus untuk praktek
pembelajaran matematika saya adalah To develop people comprehensively
(mengembangkan kemampuan matematika siswa secara menyeluruh) karena guru tidak
lagi sebagai orang yang maha tahu untuk mentransfer pengetahuannya kepada
siswa. Akan tetapi, kita memandang siswa itu memiliki bakat, wawasan dan tugas kita sebagai guru sebagai
fasilitator untuk mengembangkan bakat dan wawasan yang telah ada.
J.
Hakikat
Pembelajaran (Nature of Learning)
1.
Work Hard, Exercises, Drill, Memorize
Hakekat
belajar matematika dengan bekerja keras, latihan dan menghafal. Anak yang
belajar harus banyak latihan, semakin banyak dan kuat serta keras latihannya
semakin baik hasil pembelajaran matematikanya.
2.
Thinking and Practice
Belajar
matematika itu dengan berpikir dan mempraktekkannya. Sebagaimana kita ketahui
bahwa matematika itu merupakan proses berpikir dan proses berpikir ini harus
dipraktekkan agar memahami matematika dengan baik.
3.
Understanding and Application
Belajar
matematika dengan memahami dan mengaplikasikannya. Paham ini berpendapat bahwa
keberhasilan pembelajaran matematika dengan memahami matematika tersebut dan
mengaplikasikannya. Kalau hanya mengerjakan latihan soal MTK, mempraktekkan
tanpa pemahaman yang dalam, maka akan mengurangi esensi belajar matematika.
4.
Exploration
Belajar
matematika yang baik itu dengan eksplorasi. Matematika tidak hanya deretan
rumus-rumus tanpa makna. Oleh karena itu, cara belajar matematika yang bagus
itu dengan mengeksplorasi matematika tersebut.
5.
Discussion, Autonomy Self
Diskusi
ialah suatu cara belajar siswa untuk
mengadakan perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan,
atau menyusun berbagai alternatif dalam pemecahan masalah". Keuntungan
diskusi yaitu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan
pendapatnya dan menjadikan mereka lebih aktif sehingga interaksi yang
berlangsung selama proses pembelajaran tidak hanya terfokus pada guru tetapi
adanya interaksi antara siswa dengan siswa lainnya menjadi lebih terfokus
sesuai dengan pembelajaran yang berlangsung di kelas. Dengan menggunakan diskusi kelas diharapkan mampu meningkatkan
aktivitas siswa dan kemampuan mengungkapkan pendapat serta memiliki strategi
untuk menjawab soal sehingga proses pembelajaran berlangsung baik.
Dari uraian di atas,
hakekat pembelajaran yang saya pilih untuk praktek pembelajaran yaitu
exploration karena matematika itu adalah aktivitas sosial. Jadi seorang siswa
hany perlu mengeksplorasinya lebih dalam lagi.
K.
Hakikat
Mengajar (Nature of Teaching)
1.
Transfer of Knowledge
Kegiatan belajar dan mengajar yang
dilakukan secara tersistem dan terprogram di dalam kelas oleh guru sebenarnya
dapat saja kita ketahui tingkat keberhasilannya dari proses komunikasi yang
terjalin. Bahwa, proses belajar dan mengajar yang terjadi di kelas merupakan
proses komunikasi antara guru dan anak didik. Dan, komunikasi yang lancar
ditengarai mempunyai andil yang cukup besar dalam upaya peningkatan kualitas
pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru.
Sebagai sebuah proses transfer
pengetahuan (transfer of knowledge), proses pembelajaran pada kenyataannya
tidak hanya tergantung pada penguasaan materi pembelajaran oleh sang guru. Guru
yang menguasai materi pembelajaran secara tuntas tidak selalu menjadi
tanggungan bahwa proses pembelajarannya akan berhasil.
2.
External Motivation
Motivasi
eksternal guru dalam mengajar adalah sikap atau perasaan-perasaan yang timbul
pada diri seseorang terhadap pekerjaannya dalam rangka memenuhi kebutuhannya
yang dapat menyebabkan naik dan turunnya semangat dan kegairahan kerja. Adapun
motivasi eksternal meliputi : prestasi, pengakuan, pekerjaan, tanggung jawab,
kesempatan untuk maju, sikap atau perasaan-perasaan terhadap pekerjaan.
3.
Internal Motivation
Motivasi
Internal merupakan daya dorongan dari dalam diri seseorang untuk melakukan
sesuatu untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Jika kita bawa ke dalam kegiatan
mengajar guru, motivasi internal merupakan daya dorong seseorang individu
(guru) untuk terus melakukan praktek pembelajaran dengan baik berdasarkan suatu
kebutuhan dan dorongan yang secara mutlak yang berhubungan dengan aktivitas
belajar. Intinya motivasi internal timbul dari dalam diri seseorang individu
guru dalam kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan atau sejalan dengan
kebutuhanny.
4.
Construction
Mengajar
adalah suatu proses aktif dimana guru membangun (mengkonstruk) pengetahuan
siswanya berdasarkan pada pengalaman/pengetahuan yang sudah dimiliki oleh siswa
tersebut. Selain guru membangun aspek kognitif siswa, guru juga memiliki
peranan membangun karakter siswa.
5.
Discussion
Mengajar
itu adalah berdiskusi. Maksudnya guru tidak otoriter dengan kehendaknya saja
untuk mengajar tapi perlu adanya diskusi dengan murid tentang pembelajaran agar
terlaksana komunikasi dua arah dan siswa menyenangi pembelajaran matematika
tersebut.
6.
Investigation
Pembelajaran
investigasi merupakan salah satu pembelajaran yang menganut paham
konstruktivisme. Pembelajaran berlangsung dengan cara peserta didik membangun
pengetahuan mereka sendiri melalui mengidentifikasi topik yang didapat. Sebagai
bagian dari investigasi para siswa mencari berbagai sumber di dalam maupun di
luar kelas
7.
Development
Mengajar
itu adalah membangun. Membangun semangat siswa untuk belajar matematika,
membangun pikiran siswa untuk berpikir kritis dan kreatif. Membangun pemahaman
siswa dengan baik
8.
Facilitating
Mengajar
itu sebagai fasilitator. Siswa merupakan manusia yang sudah memiliki bakat dan
wawasan. Sebagai guru, kita hanya sebagai fasilitator untuk membantu siswa
dalam berpikir matematis.
9.
Ekspositori
pembelajaran ekspositori adalah pembelajaran yang
menekankan pada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru
kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi
pelajaran secara optimal.
Dari uraian di atas,
hakekat mengajar yang paling sesuai dengan praktek pembelajaran matematika
adalah Facilitating, kita sebagai guru hanya memfasilitasi siswa untuk dapat
berpikir matematis.
L.
Teori
Mengajar Matematika (Theory of Teaching Mathematics)
1.
Ekspositori
pembelajaran ekspositori adalah pembelajaran yang menekankan
kepada proses penyampan materi secara verbal dari seorang guru kepada
sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran
secara optimal. Materi pelajaran disampaikan lang-sung oleh guru. Siswa tidak
dituntut untuk menemukan materi itu. Materi pe-lajaran seakanakan sudah jadi.
Karena strategi ekspositori lebih menekankan kepada proses bertutur, maka
sering juga dinamakan strategi ”chalk and talk”.
2.
Problem solving
problem solving adalah pembelajaran yang
mengutamakan pemecahan masalah dalam kegiatan belajar untuk memperkuat daya
nalar yang digunakan oleh peserta didik agar mendapatkan pemahaman yang lebih
mendasar dari materi yang disampaikan. Seperti yang diungkapkan Pepkin bahwa metode
problem solving adalah suatu pembelajaran yang melakukan
pemusatan pada pengajaran dan keterampilan pemecahan masalah yang diikuti
dengan penguatan keterampilan.
3.
Memorize
Pembelajaran
yang diarahkanuntuk mengembangkan kemampuan menyerap dan menginterogasikan
informasi sehingga siswa-siswa dapat mengingat informasi yang telah diterima
dan dapat me-recall kembali pada saat yang diperlukan
4.
Drill
Pembelajaran
Drill merupakan suatu cara mengajar dengan memberikan latihan-latihan terhadap
apa yang telah dipelajari siswa sehingga memperoleh suatu keterampilan
tertentu. Kata latihan mengandung arti bahwa sesuatu itu selalu diulang-ulang,
akan tetapi bagaimanapun juga antara situasi belajar yang pertama dengan
situasi belajar yang realistis, ia akan berusaha melatih keterampilannya. Bila
situasi belajar itu diubah-ubah kondisinya sehingga menuntut respons yang berubah, maka keterampilan akan lebih
disempurnakan.
Ada keterampilan yang dapat
disempurnakan dalam jangka waktu yang pendek dan ada yang membutuhkan waktu
cukup lama. Perlu diperhatikan latihan itu tidak diberikan begitu saja kepada
siswa tanpa pengertian, jadi latihan itu didahului dengan pengertian dasar.
5.
Discussion
Metode
pembelajaran diskusi adalah metode yang dimana guru memberikan suatu persoalan atau
masalah kepada peserta didik, dan peserta didik di beri kesempatan untuk
berkelompok dan menyelesaikan masalah yang diberikan oleh guru. Dalam kegiatan
diskusi, peserta didik diberikan kebebasan untuk mengemukakan pendapatnya. Baik
itu mengusulkan, menyanggah dan memberikan saran.
6.
Practical work
Pembelajaran
praktik merupakan suatu proses untuk meningkatkan keterampilan peserta didik
dengan menggunakan berbagai metode yang sesuai dengan keterampilan yang
diberikan dan peralatan yang digunakan. Selain itu, pembelajaran praktik
merupakan suatu proses pendidikan yang berfungsi membimbing peserta didik
secara sistematis dan terarah untuk dapat melakukan suatu ketrampilan.
7.
Development
Pembelajaran
pengembangan berarti pembelajaran yang berfokus pada proses yang
bertujuan memanfaatkan kaidah dan teori ilmu pengetahuan
yang telah terbukti
kebenarannya untuk meningkatkan fungsi, manfaat, dan aplikasi ilmu
pengetahuan dan teknologi yang telah ada, atau menghasilkan teknologi baru.
8.
Facilitating
Tugas
guru adalah memfasilitasi pembelajaran. Karena itu diperlukan alat – alat yang
dapat digunakan sebagai alat bantu guru dalam mengajar serta sebagai saran
pembawa pesan dari sumber belajar ke penerima pesan belajar (siswa). Alat bantu
tersebut sering disebut dengan media pembelajaran. Banyak sekali media
pembelajaran yang dapat kita jumpai, dari yang sederhana hingga yang cukup
komplek. Media pembelajaran dapat kita jumpai di pasaran sebagai sarana
permainan ataupun kita bisa kita buat sendiri dengan bahan yang sederhana.
Selain itu guru memfasilitasi pembelajaran ini maksudnya membimbing siswa/
memfasilitasi siswa dalam melaksanakan proses berpikir dalam pembelajaran
matematika.
M. Hakikat Sumber Belajar (The Nature
of Teaching Learning Resources)
1.
White Board, Chalk, Anti Calculator
Sumber
belajar yang bagus itu yang konkret seperti papan tulis dan kapur. Dalam
pembelajaran matematika, sumber belajar ini bagus karena pada saat kita
menjelaskan kepada siswa pada papan tulis dengan kapur itu lebih membekas daripada
dengan kalkulator.
2.
Teaching Aid
Alat
bantu dalam mengajar/ media adalah alat yang digunakan oleh guru dalam membantu
guru menjelaskan tentang suatu konsep matematika.
3.
Visual Teaching Aid for motivation
Alat
bantu visual seperti PPT, Video, AR dan lain sebagainya merupakan alat bantu
mengajar yang membuat motivasi siswa menjadi meningkat.
4.
Various resources/ environment
Lingkungan
merupakan sumber belajar yang paling dekat dengan siswa. Dengan menggunakan
lingkungan sebagaai alatt bantu. Akan memudahkan siswa dan membuat siswa
semakin memahami bahwa matematika tidak hanya sekadar rumus.
5.
Social Environment
Lingkungan
sosial merupakan sumber belajar yang bagus dan membuat siswa semakin dekat
dengan matematika. Lingkungan sosial membuat siswa semakin mengerti bahwa
matematika sebenarnya bukan hanya sekadar angka tapi merupakan aktivitas sosial
kita sebagai manusia.
Dari uraian diatas,
sumber belajar matematika yang paling bagus dipraktekkan dalam pembelajaran
matematika adalah Visual Teaching Aid for motivation karena matematika tidak
hanya ilmu bicara tentang lingkungan sosial, tetapi juga berbicara tentang yang
abstrak dan yang dipikirkan. Oleh karena itu, siswa membutuhkan sumber belajar
yang membantu secara visual untuk mengkonkretkan keabstrakan matematika
N.
Hakikat
Asesmen Pembelajaran (The Nature of Asesment)
1.
External Test
Penilaian
yang diselenggarakan oleh pemerintah. External test ini biasanya
diselenggarakan secara serentak baik skala daerah maupun skala nasional. Contoh
eksternal test adalah UNBK, Penilaian Akhir Semester (PAS) dan AKM
2.
Portfolio
Asesmen portofolio adalah
suatu prosedur pengumpulan informasi mengenai perkembangan dan kemampuan siswa
melalui portofolionya, dimana pengumpulan informasi tersebut dilakukan secara
formal dengan menggunakan kriteria tertentu, untuk tujuan pengambilan keputusan
terhadap status siswa. Proses dan hasil Penilaian portofolio
menerapkan prinsip proses dan hasil. Proses belajar yang dinilai misalnya
diperoleh dari catatan perilaku harian peserta didik anecdot mengenai sikapnya
dalam belajar, antusi tidaknya dalam mengikuti pelajaran dan sebagainya. Aspek
lain dari penilaian portofolio adalah peniaian hasil, yaitu menilai hasil akhir
suatu tugas yang diberikan oleh guru. roses dan hasil Penilaian portofolio
menerapkan prinsip proses dan hasil. Proses belajar yang dinilai misalnya
diperoleh dari catatan perilaku harian peserta didik anecdot mengenai sikapnya
dalam belajar, antusi tidaknya dalam mengikuti pelajaran dan sebagainya. Aspek
lain dari penilaian portofolio adalah peniaian hasil, yaitu menilai hasil akhir
suatu tugas yang diberikan oleh guru.
3.
Social
Asesmen
Sosial merupakan proses kritis dalam praktik pekerjaan siswa. Penentuan tujuan
dan intervensi amat tergantung pada asesmen. Asesment yang tidak tepat atau
tidak lengkap mungkin akan berakibat pada penetapan tujuan yang tidak tepat dan
penetapan intervensi yang tidak tepat.
4.
Contextual
Asesmen kontekstual merupakan asesmen yang berbasis situasi nyata dalam
kehidupan sehari-hari, dimana peserta didik diharapkan dapat menerapkan
konsep-konsep pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan masalah.
Ciri-ciri asesmen kontekstual yang berbasis pada asesmen
autentik, adalah sebagai berikut.
a. Peserta didik mengkonstruksi responnya sendiri, bukan sekadar
memilih jawaban yang tersedia.
b. Tugas-tugas merupakan tantangan yang dihadapkan dalam dunia
nyata.
c. Tugas-tugas yang diberikan tidak hanya memiliki satu jawaban
tertentu yang benar, tetapi memungkinkan banyak jawaban benar atau semua
jawaban benar.
Dari uraian di atas,
asesmen yang saya pilih untuk praktek pembelajaran matematika yang paling baik
adalah asesmen kontekstual. Pemilihan asesmen kontekstual ini sejalan dengan
hakekat pembelajaran matematika. Pada asesmen ini peserta didik mengkontruksi
pikiran sendiri, tugas merupakan tantangan dan tidak hanya memiliki satu
jawaban, ini sangat bagus diterapkan dalam pembelajaran matematika.
O.
Hakikat Masyarakat/Siswa (The
Nature of Society)
1.
Diversity
keragaman adalah suatu
kondisi pada kehidupan masyarakat. Perbedaan seperti itu ada pada
suku bangsa, ras, agama, budaya dan gender. Keragaman yang ada
di Indonesia adalah kekayaan dan keindahan bangsa. Jadi keberagaman siswa
adalah keberagaman dalam hal apapun baik suku bangsa, ras, agama, budaya,
bakat, kemampuan dan lain sebagainya
2.
Monoculture
Monokultur
adalah masyarakat dengan satu ragam saja. Monokultur siswa yaitu keseragaman
siswa dalam hal kemampuan terhadap matematika
3.
Desentralisation
Desentralisasi
masyarakat adalah penyerahakan kekuasaan dari pusat ke daerah. Adapun
desentralisasi pada siswa adalah penyerahan kekuasaan dalam pembelajaran dari
guru kepada siswa
4.
Competency
Masyarakat
yang mempunyai kompetensi. Adapun kompetensi yaitu kemampuan masyarakat
tersebut untuk tujuan yang dicapai. Sedangkan kompetensi pada siswa yaitu
kemampuan yang diperlukan siswa dalam belajar matematika dengan baik.
5.
Multiple Solution
Masyarakat
dengan solusi ganda yaitu masyarakat dengan kompetensi ataupun bakat yang
ganda. Begitu pula dengan siswa, siswa dengan solusi ganda yaitu siswa dengan
kemampuan yang dapat memahami permasalahan matematika dari beberapa sudut
pandang
6.
Heterogonomous
Heterogonomous dalam masyarakat atau disebut
dengan Heterogonomous sosial
adalah suatu kondisi dimana dalam satu lingkungan sosial terdapat berbagai
ragam masyarakat dengan kualitas-kualitas yang dimiliki oleh
masing-masing setiap masyarakatnya. Apabila pada siswa heterogonomous ini
merupakan keadaan dalam kelas siswa memiliki kualitas dan keahlian
masing-masing.
7.
Social Capital
Social capital meliputi shared values
dan rules bagi perilaku sosial yang terekspresikan dalam hubungan-hubungan
antar personal, trust dan common sense tentang tanggung jawab terhadap masyarakat,
semua hal tersebut menjadikan masyarakat lebih dari sekedar
kumpulan individu-individu
8.
Local Culture
Budaya lokal adalah budaya yang
dimiliki oleh masyarakat yang menempati lokalitas atau daerah tertentu yang
berbeda dari budaya yang dimiliki oleh masyarakat yang berada
di tempat yang lain.
Dari uraian di atas,
dalam pembelajaran matematika dibutuhkan Heterogonomous dalam masyarakat, dimana dalam kelas nanti akan
terdapat siswa dengan berbagai macam keahlian. Sehingga sangat mudah saling
membantu satu sama lain, apalgi jika ini diterapkan pada pembelajaran koperatif
P.
Hakikat
Kurikulum (The Nature Curriculum)
1.
Instrument Curriculum
Kurikulum
berbasis intrumen adalah kurikulum
berbasiskan alat yang dapat digunakan
untuk mengukur tingkat ketercapaian kompetensi. Atau dapat juga diartikan
sebagai kurikulum berbasiskan alat bantu yang dipilih dan digunakan dalam kegiatan pembelajaran agar
kegiatan pembelajaran tersebut, menjadi sistematis.
2.
Subject based Curriculum
subject based curriculum, menurut Roberts S. Zais dipandang
sebagai konsep kurikulum yang paling kuno, tradisional, dan klasik, konsep
kurikulum ini hampir semisal dengan konsep kurikulum ketika pada awal diadopsi
dalam dunia pendidikan. Kurikulum ini cenderung sebagai kurikulum intelektual
dan memang lahir dari teori pendidikan intelek yang menjadi landasan
konseptualnya.
Menurut Zais dan para ahli kurikulum lainnya
seperti; Ronald G. Cave, Bill Hodkinson, Rogers, dan lain-lain, mendefinisikan
kurikulum ini sebagai ‘a set series of subject or subject matters to be
covered/ to be mastered by learners’. Semangat kurikulum ini berorientasi
kepada penguasaan disiplin-disiplin pengetahuan, nilai-nilai budaya, teknologi,
dan sebagainya yang sudah ada dan banyak dikembangkan para ahli terdahulu.
Semangat kurikulum ini juga lebih bersifat konserpativ, mengingat pengawetannya
terhadap berbagai disiplin ilmu serta nilai-nilai yang sudah ada. Konstruk
kurikulum ini dibentuk oleh deretan mata-mata pelajaran yang perlu dipelajari
dan dikuasai peserta didik
3.
Integrated Curriculum
Integrated
curriculum meniadakan batas-batas antara berbagai mata pelajaran dan menyajikan
pelajaran dalam bentuk unit atau keseluruhan. Semua ini dimaksudkan agar anak
dapat dibentuk menjadi pribadu yang integrated yakni manusia yang selaras
dengan lingkungan hidupnya.
4.
Knowledge Based Curriculum
Kurikulum
berbasis pengetahuan adalah kurikulum berbasis fakta, kebenaran atau
informasi yang diperoleh melalui pengalaman atau pembelajaran.
5.
Competent based Curriculum
Menurut
Saylor (1981), menyatakan bahwa kurikulum berbasis kompetensi sebagai “.. a design
based on specific competencies is characterized by specific, sequential, and
demonstrable learning of the task, activities, or skill which constitute the
acts to be learned and performed by student”. Lebih lanjut Eve Krakow (2003)
mengemukakan bahwa pengajaran berbasis kompetensi adalah keseluruhan tentang
pembelajaran aktif (active learning) dimana guru membantu siswa untuk belajar
bagaimana belajar dari pada hanya mempelajari isi (learn how to learn rather
than just cover content).
Kurikulum
berbasis kompetensi menekankan pada mengeksplorasi kemampuan/ potensi peserta
didik secara optimal, mengkonstruk apa yang dipelajari dan mengupayakan
penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kurikulum berbasis kompetensi
berupaya mengkondisikan setiap peserta didik agar memiliki pengetahuan,
keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir
dan bertindak sehingga proses penyampaiannya harus bersifat kontekstual dengan
mempertimbangkan faktor kemampuan, lingkungan, sumber daya, norma, integrasi
dan aplikasi berbagai kecakapan kinerja, dengan kata lain KBK berorientasi pada
pendekatan konstruktivisme.
6.
Individual Curriculum
Kurikulum
Pembelajaran individual adalah Kurikulum yang berorientasi pada pelatihan yang
bersifat individual karena pertimbangan adanya perbedaan-perbedaan diantara
para peserta didik. Kurikulum Pembelajaran individual memberi kesempatan kepada
siswa untuk menentukan sendiri tempat, waktu dan kapan dirinya merasa siap
untuk menempuh ulangan atau ujian.
7.
Interactive Curriculum
Kurikulum
yang berorientasi pada siswa (student centered), dimana siswa dilibatkan
langsung dalam berbagai jenis kegiatan pembelajaran di kelas. Kurikulum
Interaktif membuat siswa saling berinteraksi dalam berbuat dan berpikir (hands
on and minds on) yang menghasilkan umpan balik secara langsung
terhadap materi pelajaran yang diberikan
8.
ICT Based Curriculum
Dalam Kurikulum berbasis TIK, TIK berperan sebagai media
penghubung untuk menyampaikan transfer ilmu pengetahuan dari pendidik kepada
peserta didik. Dua unsur penting dalam proses transfer ilmu pengetahuan
tersebut yaitu unsur media dan pesan yang disampaikan melalui media tersebut.
Unsur media menggambarkan TIK sebagai jaringan infrastruktur yang menghubungkan
pendidik dengan peserta didik, sedangkan unsur pesan menggambarkan konten
pembelajaran digital.
Kurikulum berbasis TIK, tidak
menghilangkan konteks awal pembelajaran yang berlangsung secara tatap muka di
dalam ruang kelas melainkan melalui beberapa tahapan evolusi sesuai kondisi
sekolah.
Dari uraian di atas,
Kurikulum pendidikan yang saya pilih
untuk pembelajaran matematika yaitu Competent based Curriculum (Kurikulum
Berbasis Kompetensi) karena sebagaimana diketahui pembelajaran matematika
memerlukan siswa untuk membangun sendiri pengetahuannya dengan dibantu guru
sebagai fasilitator. Ini sejalan dengan prinsip KBK yang beroriantasi pada
pendekatan kontruktivisme.
Q.
Hakikat Siswa Belajar Matematika
(The Nature Students Learn Mathematics)
1.
Individual
Siswa
ini suka belajar sendiri. Kemampuan berpikir matematis nya sangat baik ketika
diberikan waktu untuk belajar sendiri. Dia bisa memahami matematika dengan
belajar sendiri/ mandiri.
2.
Competition
Cara
belajar siswa ini adalah kompetisi. Menurutnya, belajar itu adalah sebuah
kompetisi. Apabila mengerjakan soal yang diberikan guru, dia berusaha untuk
memaksimalkan hasilnya daripada teman-temannya
3.
Motivation
Siswa
dengan belajar yang memiliki motivasi tinggi. Siswa seperti ini, sangat
antusias dalam pembelajaran matematika. Siswa ini selalu mampu memotivasi
dirinya sendiri untuk belajar.
4.
Readiness
Siswa
yang selalu mempunyai prinsip untuk mempersiapkan segala sesuatu sebelum
belajar. Tipe siswa seperti ini cenderung disiplin dan tidak akan belajar
dengan pengetahuan yang kosong sebelum masuk ke kelas.
5.
Scaffolding
Siswa
yang dalam belajar membutuhkan arahan kita terkait pemahaman matematikanya.
Siswa ini tidak bisa diberikan permasalahan tanpa bimbingan.
6.
Collaborative
Siswa
yang suka berkolaborasi dengan temannya dalam belajar. Siswa ini akan mudah
memahami pembelajaran ketika diberikan tugas kelompok dibandingkan tugas
individu.
7.
Constructing
Siswa
yang membangun pengetahuannya sendiri. Proses
Konstruksi Pengetahuan Matematika dengan
suatu cara atau langkah-langkah yang dilakukan seorang siswa untuk membangun pengetahuannya, yang
berlangsung melalui dua proses konstruktif yakni proses asimilasi dan
akomodasi.
8.
Contextual
siswa memahami makna materi ajar dengan mangaitkannya
terhadap konteks kehidupan sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural),
sehingga siswa memiliki pengetahuan/ketrampilan yang dinamis dan fleksibel
untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.
9.
Enculturingual
Enkulturasi adalah kondisi saat seseorang siswa secara sadar
ataupun tidak sadar mencapai kompetensi dalam budayanya dan
menginternalisasi budaya tersebut. Proses enkulturasi terjadi ketika mereka
bergaul dengan masyarakat dari mulai anak-anak hingga
tua Melalui proses tersebut, siswa tersebut belajar menghormati simbol bangsa dari
menyanyikan lagu kebangsaan
di sekolah. ia menjadi sadar akan hak dan kewajiban dirinya dan orang lain
Dari uraian di atas,
cara belajar matematika siswa yang bagus untuk praktek pembelajaran itu adalah
kontekstual karena dalam pembelajaran matematika diharapkan siswa dapat
membangun pengetahuannya sendiri dengan dibimbing oleh guru.
Komentar
Posting Komentar