Pengertian
atau makna secara ontologis dari belajar yang paling luas adalah membangun
hidup. Menemukan rumus termasuk membangun hidup jadi dapat dikatakan bahwa
matematika adalah membangun bukti dan
membangun rumus serta membuktikan rumus. Membuktikan itu membangun bukti,
menyebut ciri-ciri itu membangun sifat, menentukan langkah-langkah itu
membangun prosedur, jadi semua dapat diawali dengan kata-kata membangun.
Berbicara
mengenai membangun, kita tidak usah berbicara jauh membahas mengenai teori dari
eropa atau dari barat. Kembalikan kepada
diri masing-masing, apa pun sukunya, apa pun agamanya,
berapa pun umur, apa pun jenis kelaminnya yang namanya membangun bida di taruh
di depan apa pun. Misalnya membangun dunia yang kemudian bisa di breakdown
menjadi membangun pikiran sehingga ditemukan dunia pikiran, kemudian membangun
rumah di breakdown menjadi membangun rumah tangga. Dalam praktiknya, pendidikan
dimaknai lebih sempit misalnya pendidikan diperuntukkan mencapai tujuan
tertentu.
Jika belajar itu sebagai
membangun maka ada metode membangun. Metode membangun yang paling hakiki adalah
metode membangun yang diteladankan oleh Tuhan kepada manusia dalam kaitannya
alam semesta ciptaan Tuhan. Analoginya yaitu sepasang merpati membangun sarang
dengan bekerja sama dan saling berinteraksi dengan alam dengan cara memetik
daun dari alam yang kemudian dikumpulkan secara berulang- ulang terjadi.
Cirinya adalah ada suatu pengulangan dan ada sesuatu yang berlanjut dan tidak
bisa diulang. Jadi hidup adalah interaksi antara yang dapat diulang dengan yang
tidak dapat diulang yang menjalani ruang dan waktunya inilah yang sebut dengan
hermeneutika yang dalam bahasa Jawa disebut dengan Cakra Manggilingan yang
dalam bahasa Indonesia disebut dengan proses perjalanan hidup.
Orang belajar filsafat
menjadi hebat dan cerdas walaupun terkadang terisolasi atau terasingkan diri
karena tidak lazim di mana menggabungkan dua keadaan dijadikan satu yang tidak
benar. Sehingga orang yang tidak suka menjadi manipulatif dan negative
thinking. Misalnya apakah Tuhan bisa menciptakan batu yang sangat besar yang
tidak bisa diangkatnya sendiri, pertanyaan ini menggabungkan dua keadaan yang
kontradiksi. Dengan pertanyaan tersebut banyak menimbulkan orang tidak menyukai
filsafat sedangkan filsafat sendiri adalah olah pikir.
Komentar
Posting Komentar