Refleksi Pertemuan Ke-6 Filsafat Ilmu dengan Prof. Dr. Marsigit, M.A

Perkuliahan Filsafat Ilmu pertemuan ke-6 yang diampu oleh Prof. Dr. Marsigit, MA dilaksanakan pada hari Selasa, 30 Maret 2021 pukul 12:40 WIB sampai 14:00 WIB. Materi yang disampaikan pada mata kuliah pertemuan kali ini adalah mengenai Ruang dan Waktu.

Menembus ruang dan waktu adalah suatu fenomena yang sangat mendasar dan sudah berkali-kali dijelaskan pada pertemuan sebelumnya, yaitu fenomena hermeneutik berupa perjalanan semua yang ada dan yang mungkin ada dalam kurun waktunya. Menembus ruang dan waktu objeknya sama dengan filsafat yaitu meliputi objek metafisik (yang ada dan mungkin ada), kemudian objek filsafatnya yaitu objek formal dan objek material. Objek formalnya adalah bentuk atau wadahnya, sedangkan objek material adalah isi atau substansinya. Maka secara metafisik setiap isi itu mempunyai wadah dan setiap wadah itu mempunyai isi, artinya di dalam wadah itu ada isi dan di dalam isi tentu ada wadahnya lagi dan seterunya. Maka secara metafisik pula, bisa dikatakan bahwa  wadah sama dengan isi. Jika pernyataan ini ditelan mentah oleh oranf awam maka akan menjadi masalah, masalah seperti pemaksaan. Oleh karena itu yang namanya filsafat adalah penjelasan. Kalau kita bisa berbicara bawa wadah adalah isi dan tidak ada penjelasan itu namanya mitos.

Seorang filsuf atau orang yang mempelajari filsafat dan mengatakan bahwa wadah sama dengan isi harus mampu menjelaskannya, jangan sampai hanya berhenti di situ, kalau berhenti di situ akan membuat masalah bagi orang awam. Penjelasannya bagaimana?, penjelasannya bisa dengan contoh-contoh. Contohnya: jika Prof. Marsigit adalah wadah, maka pikirannya Prof. Marsigit adalah isi. Jika pikiran Prof. Marsigit adalah isi dan sedang berfilsafat, maka filsafatnya adalah isi dari pikiran Prof. Marsigit yang berlaku sebagai wadah dan begitu seterusnya. Contoh lain sebuah wadah dan isinya adalah air, dan air itu adalah wadah dari mineral dan mineral adalah wadah dari molekul-molekul dan seterusnya serta tidak ada yang tidak berlaku seperti itu.

Berstruktur itu di intensi kan dan di ekstensi kan, metodenya secara keseluruhan secara epistemologi di intensi kan dan di ekstensi kan dengan menggunakan alat berupa bahasa analogi. Bahasa analogi itu adalah bahasa perumpamaan di atas bahasa kiasan artinya di pikiran itu ada planet mars, jupiter, planet, bintang, matahari, galaksi dan seterusnya. Loh kok mirip dengan yang terjadi di luar angkasa sana? Berarti pikiran itu analog dengan alam semesta. Pikiran juga analog dengan globe daripada. Karena kenapa? Di bumi ada Tokyo dan di pikiran juga ada Tokyo. Amerika juga begitu, sebelum ke Amerika di pikiran sudah ada Amerika. Maka dapat dikatakan bahwa pikiran saya analog dengan dunia. Jadi inilah yang sebut dengan bahasa analog yang berusaha menembus ruang dan waktu. Secara epistemologi, pikiran yang cerdas di dalam filsafat adalah ketika orang bisa menempatkan di dalam ruang dan waktunya dengan metode yang sesuai dengan ruang dan waktunya.

Jika dunia ini berstruktur, maka semuanya berstruktur. Tubuh berstruktur, pikiran berstruktur, hati berstruktur. Jadi yang tergoda dengan setan itu strukturnya berada di bawa, dan hati yang dituntun oleh nur (cahaya) itu harus di atas inilah yang disebut dengan berstruktur. Dunia berstruktur maka semuanya berstruktur. Keluarga berstruktur, Prof. Marsigit berstruktur, kuliah berstruktur, alam semesta berstruktur, pemerintahan berstruktur pikiran berstruktur, yang ada dan yang mungkin ada berstruktur.

Struktur yang paling sederhana dari yang ada dan yang mungkin ada adalah wadah dan isi atau secara keseluruhan adalah fatal dan vital. Fatal adalah wadahnya dan vital adalah isinya, sehingga jika fatal berupa wadanya isinya bisa berupa vital atau fatal dan seterusnya secara berstruktur. Maka berangkat dari struktur yang sederhana kemudian berkembang.

Dulu, ketika filsafat berada pada masa Yunani kuno, struktur filsafat itu hanya ada dua yaitu saya dan bukan saya, di dalam dan di luar, diri dan bukan diri, saya dan lingkungan. Filsafat pada saat itu fokus pada apa yang terjadi dan bagaimana dan apa bahan terbuatnya lingkungan, seperti batu terbuat dari apa, tanah terbuat dari apa dan lain-lain. Sampai-sampai pada saat itu ada kesimpulan bahwa dunia ini terbuat dari angin, air dan udara dan api. Itu adalah filsafat pertama yang disebut dengan filsafat alam yang kemudian berkembang menjadi diriku itu adalah diriku yang aku pikirkan dan bukan diriku adalah diri yang berada di luar diriku atau realitas. Yang aku pikirkan berkembang menjadi rasionalisme dan realitas kemudian berkembang menjadi empirisme. Kemudian pada perkembangan berikutnya, struktur dunia ada tiga pada masa Aguste Comte yaitu dari bawah disebut spiritualitas, paling tinggi adalah positivisme dan di tengah adalah metafisik. Kemudian sampai sekarang struktur dunia masih berkembang. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filsafat Bagian 1 (Filsafat Bagian 1 by Prof.Dr. Marsigit, M.A https://youtu.be/8t3lalvQbiQ)