" HOW TO TEACH"
Pendidikan
itu bisa di naikkan sampai paling tinggi dan bisa di turunkan sampai ke paling
rendah sampai pada batas materinya. Secara
spiritual, fungsi dari pendidikan adalah memfasilitasi. Kata fasilitasi itu
mencakup ranah paling tinggi dan ranah paling rendah. Fungsi paling tinggi dari
pendidikan secara spiritual adalah memfasilitasi peserta didik yang jika
dinaikkan akan terus naik menyesuaikan levelnya.
Analogi yang diceritakan mengenai
fungsi pendidikan secara spiritual adalah mengenai salah satu kisah dari Rasulullah
saw. bersama dengan sahabatnya-sahabatnya. Suatu ketika ada seorang sahabat
yang bertanya bagaimanakah wajah Rasulullah yang sesungguhnya?, kemudian beliau
menjawab lihatlah lubang telinga anak ke-5 ku itu, kemudian
melihatnya kecuali satu di antara mereka yaitu Abu Bakar ra. kemudian
Rasulullah saw. bertanya kenapa kamu tidak melihatnya?, Abu Bakar menjawab saya
tidak perlu melihatnya
insya Alah saya sudah tahu, saya selalu melihat wajah Rasulullah kapan dan di
mana pun saya berada. Kemudian Rasulullah berkata kamulah murid/sahabatku yang
paling cerdas.
Dari cerita tersebut jika dinaikkan
lagi di atas Rasulullah saw. masih ada lagi gurunya yaitu malaikat Jibril.
Kemudian dinaikkan lagi di atas Jibril adalah kuasa Allah SWT. Jadi fungsi dari pendidikan secara
spiritual adalah memfasilitasi peserta didik agar mengetahui dan menjalakan
perintah dari Tuhan dan menjauhi larangannya.
FUNGSI
DARI PENDIDIKAN:
1.
Secara
spiritual adalah memfasilitasi siswa agar mampu membangun hidupnya dunia dan
akhirat.
2.
Secara
psikologi sosial, fungsi dari pendidikan adalah memerdekakan peserta didik.
Bagaimana agar peserta didik merdeka? Diturunkan lagi psikologinya. Supaya
merdeka ada istilah atau paradigma mengurangi intervensi guru untuk memberikan
kesempatan yang seluas-luasnya untuk aktivitas siswa.
Pendidikan dibelah
menjadi dua yaitu kepentingan guru dan kepentingan siswa di mana guru mewakili
generasi tua atau penguasa sedangkan siswa mewakili generasi muda atau rakyat.
Kebutuhan orang tua disebut ambisi sedangkan kebutuhan orang muda adalah
kebutuhan, sehingga pendidikan itu cukup dibelah menjadi dua saja, apakah
kepentingan ambisi orang tua ataupun kepentingan atas kebutuhan para siswa.
Orang tua itu terdiri
dari orang tua, guru, kepala sekolah, dinas, gubernur, presiden, pemerintah
kemudian kapital/bisnis, industri bahkan penjajah adalah mereka-mereka yang
mempunyai ambisi. Ambisi itu ada dua, yaitu ambisi yang baik dan ambisi yang
buruk. Kalau pemerintah punya ambisi, maka ambisi itu adalah ambisi yang baik
pada ruang dan tempatnya, kalau diterapkan di sembarang tempat belum tentu
baik, maka dari itu metode menjadi penting. Begitu pun dengan penjajah, mereka
mempunyai ambisi yang dianggap sebagai ambisi buruk bagi negara yang
dijajahnya.
Kebutuhan orang muda
atau siswa secara metodologi dibagi menjadi dua yaitu directed teaching dan interected teacing yaitu pembelajaran yang
terkendali dan pembelajaran yang kurang terkendali atau loser.
Yang dimaksud dengan
inovasi pembelajaran adalah move on. Move on dari penjajah ke rebibik dari
pemerintah ke masyarakat, dari guru ke siswa, dari orang tua ke anaknya. Kenapa
terjadi bahwa mahasiswa tidak bisa move on? Karena ini terlabelkan dengan
genetika atau budaya karena intuisi mahasiswa sekarang mengalir dari intuisi
penjajah yang menjadi budaya yang muncul dalam cerita dan film dalam pikiran
orang tua, saudara dan seterusnya yang kemudian direfleksikan wujudnya secara
tidak sadar sebagai seorang yang directed teaching.
Berikut merupakan
komen-komen dari beberapaa video micro teaching online yang telah dikirim.
1. Apersepsi
Apersepsi
yang ada pada video hanya mengenai tentang ingatan. Apersepsi tidak hanya
mengenai ingatan tapi juga mencakup mengenai keterampilan hidup, ingatan
mengerjakan, mendengar, menulis dan sebagainya. Selanjutnya adalah jika
menunjuk seseorang pada saat apersepsi maka yang lain tidak akan memperhatikan.
2.
Masalah
waktu
Struktur
pembelajaran itu harus tepat mulai dari pendahuluan, kegiatan inti dan
seterusnya berdasarkan porsi waktunya masing-masing. Masih terdapat yang belum
menggunakan.
3.
LKPD
Masih
terdapat mahasiswa yang belum menggunakan LKPD atau LKS pada proses
pembelajaran, dan yang harus diingat bahwa LKPD bukan kumpulan soal dan semua
siswa yang membuat LKPD berisi kumpulan soal, tapi berisi langkah-langkah untuk
menemukan rumus matematika.
4.
Tidak
memfasilitasi siswa menemukan rumus
Dalam
memfasilitasi siswa menemukan rumus mencakup persoalan spiritua, filsafat,
psikologi, budaya, genetika yang mengalirkan intuisi.
5.
Pembelajarannya
masih teacher centre atau directed teaching
yang mana masih didominasi oleh guru dan siswa belum menjadi aktor atau yang
difasilitasi dalam pembelajaran
6.
Semua
video masih bermasalah antara sajian tulisan dan tertulis.
Banyak hal-hal yang diucapkan yang harusnya tertulis. Aliran konstruktivisme
ekstrim bahkan mengatakan guru dilarang keras menjelaskan materi atau konten
kepada siswa sebab akan mengintervensi siswa dalam membangun dan menemukan
matematikanya atau rumusnya, di mana guru diharapkan hanya memfasilitasi saja.
Itulah kenapa LKPD nya
harus lengkap.
7.
Dalam
mencari kesimpulan bersama tidak harus memperoleh satu kesimpulan yang sama.
Siswa hendaknya menghasilkan banyak kesimpulan kemudian mencari kesamaan dari
kesimpulan yang dihasilkan.
8.
Cenderung
tergesa-gesa dalam menjelaskan materi yang secara psikologis dikejar waktu dan
kuota/pulsa. Ciri khas dari directed teaching ini
adalah ekspektasi guru yang sangat kuat bahwa siswa harus bisa banyak hal
bahkan tanpa kompromi (absolutly).
9. Suara, gerakan dan penampilan juga perlu diperhatikan.
REFLEKSI VIDEO CONFERENCE MIKROTEACHING (TUGAS E) Mata Kuliah Filsafat Ilmu dengan Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Komentar
Posting Komentar